Roma, ibu kota Italia yang terletak di bagian tengah-barat Semenanjung Italia, tepatnya di wilayah Lazio, adalah kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Berdiri megah di tepi Sungai Tiber dan hanya berjarak sekitar 24 kilometer dari Laut Tyrrhenian, Roma secara historis dikenal karena dibangun di atas Tujuh Bukit dan memiliki iklim Mediterania yang khas. Kota ini tidak hanya merupakan pusat pemerintahan Italia, tetapi juga merupakan kota terbesar dan terpadat di negara tersebut, dengan sekitar 2,9 juta penduduk di batas kotanya dan sekitar 4,3 juta di wilayah metropolitannya. Julukan "Kota Abadi" atau "The Eternal City" disematkan padanya karena usianya yang luar biasa, telah berdiri dan berkembang selama hampir 2.800 tahun sejak didirikan pada 753 SM.
Sejarah Panjang Pendirian Roma
Sejarah Roma terbentang dari masa pendiriannya hingga kemunduran Kekaisaran Romawi Barat. Berdasarkan tradisi, pendirian kota ini terjadi pada tahun 753 SM, meskipun bukti arkeologis menunjukkan adanya pemukiman yang berkelanjutan sejak awal milenium pertama SM. Perkembangan awal kota ini ditandai dengan munculnya desa-desa terpisah di perbukitan Palatine dan Aventine pada abad ke-8 hingga ke-7 SM, yang kemudian meluas ke punggung bukit Esquiline dan Quirinal. Berbagai kelompok budaya, termasuk suku Latin dan Sabine, memainkan peran penting dalam pembentukan awal kota ini. Akhirnya, penyatuan politik kota terjadi pada awal abad ke-6 SM, dengan pengaruh kuat dari negara-kota Etruria. Di bawah kepemimpinan tujuh raja, Roma berhasil tumbuh menjadi kekuatan yang berpengaruh di Italia tengah.
Periode penting lainnya dalam sejarah Roma adalah peralihan dari monarki ke Republik Romawi yang lebih demokratis pada tahun 509 SM. Masa Republik ini berlangsung hingga tahun 27 SM, ketika Kekaisaran Romawi didirikan. Selama awal Republik Romawi (509–264 SM), berbagai jabatan dan lembaga politik baru diciptakan untuk mengatur masyarakat yang terus berkembang.
Puncak kejayaan Roma dicapai pada era Kekaisaran Romawi, yang dimulai pada tahun 27 SM setelah runtuhnya Republik dan berlanjut hingga keruntuhan terakhir kekaisaran Barat pada abad ke-5 Masehi. Pada masa keemasan ini, Roma bertransformasi dari sebuah kota kecil menjadi sebuah kekaisaran luas yang membentang dari Inggris, melintasi Eropa kontinental di sebelah barat Rhine dan selatan Danube, sebagian besar Asia di sebelah barat Efrat, hingga Afrika utara dan pulau-pulau di Mediterania. Ekspansi monumental inilah yang menjadikan Roma sebagai pusat peradaban dunia, dengan warisan yang masih terasa hingga saat ini.

Kota yang Memiliki Negara di Dalamnya: Vatikan
Salah satu fakta unik tentang Roma adalah keberadaan Vatikan, sebuah negara berdaulat yang terletak di dalam kota Roma itu sendiri. Terbentuknya Vatikan sebagai negara merdeka merupakan akhir dari konflik panjang selama 60 tahun yang dikenal sebagai "The Roman Question". Konflik ini berawal pada tahun 1870 ketika Kerajaan Italia merebut Roma, yang menyebabkan Paus Pius IX merasa menjadi "tahanan di Vatikan" dan melarang umat Katolik terlibat dalam politik Italia.
Ketegangan ini akhirnya mereda pada 11 Februari 1929 dengan ditandatanganinya Perjanjian Lateran oleh Benito Mussolini dan Takhta Suci. Perjanjian ini secara resmi mengakui Vatikan sebagai negara berdaulat yang merdeka, memberikan kompensasi finansial atas wilayah yang hilang, serta menjadikan Katolik sebagai agama resmi negara Italia pada saat itu. Bagi Mussolini, perjanjian ini penting untuk meningkatkan citra politiknya dan mendapatkan dukungan umat Katolik. Bagi Gereja, ini adalah cara untuk menjamin kebebasan beragama. Meskipun hubungan antara Paus dan rezim Fasis Mussolini tetap diwarnai perselisihan, Perjanjian Lateran menjadi landasan hukum yang kuat dan bahkan dimasukkan ke dalam konstitusi Italia setelah Perang Dunia II, dan tetap berlaku hingga tahun 1984 ketika status Katolik sebagai agama negara dicabut.

Perencanaan Kota yang Teliti dan Arsitektur Megah
Arsitektur Roma adalah perpaduan luar biasa yang terus berevolusi dari gaya Klasik kuno hingga desain modern Italia. Bangsa Romawi dikenal sebagai pelopor dalam inovasi struktural seperti lengkungan, kubah, dan atap lengkung. Kota ini juga menjadi pusat gaya Renaisans, Barok, Neoklasik, hingga Fasis. Dalam merancang kota, mereka sangat teliti memperhatikan faktor iklim dan geografi, menggunakan pola kotak-kotak yang rapi dengan Forum sebagai pusat aktivitas warga. Kemajuan infrastruktur mereka terlihat jelas pada sistem saluran air yang kompleks dan sistem pembuangan limbah yang teratur.
Dari sisi estetika dan material, arsitektur Romawi menampilkan pilar-pilar megah yang lebih ramping dan penuh dekorasi dibandingkan gaya Yunani. Ketahanan bangunan mereka didukung oleh penggunaan material berkualitas seperti batu kapur travertin dan penemuan beton dari tanah vulkanik (pozzolana), yang sangat kuat bahkan di bawah air. Konsep desain mereka selalu mengutamakan kemegahan ruang, baik pada kuil, pemandian umum, maupun hunian pribadi, dengan perhatian khusus pada tata cahaya dan pemandangan interior untuk menciptakan kenyamanan dan keindahan yang abadi.

Kota dengan Ribuan Air Mancur
Roma pantas disebut sebagai ibu kota air mancur dunia karena memiliki lebih dari 2.000 air mancur. Tradisi ini berawal sejak zaman kuno ketika 11 saluran air raksasa memasok ribuan liter air ke kota setiap hari. Pada masa Renaisans, para Paus memperindah warisan ini dengan membangun kembali saluran air kuno dan menciptakan air mancur umum yang cantik dan bermanfaat. Memasuki era Barok, air mancur berubah menjadi karya seni monumental yang spektakuler, seperti Air Mancur Triton karya Bernini dan Air Mancur Empat Sungai di Piazza Navona.
Salah satu landmark paling ikonik adalah Air Mancur Trevi, sebuah mahakarya yang dibangun antara 1732-1762. Roma juga memiliki air mancur dengan fungsi unik, seperti Air Mancur Buku yang menghormati dunia pendidikan, dan Air Mancur Penjaga Pintu, salah satu "air mancur bicara" yang digunakan warga untuk menyampaikan sindiran politik. Dari patung Neptunus yang gagah hingga simbol persatuan Italia seperti Air Mancur Adriatik, setiap pancuran air di Roma adalah perpaduan jenius antara batu, air, dan sejarah.

Simfoni Perayaan dari Masa ke Masa
Roma adalah kota yang tak pernah berhenti berpesta, di mana tradisi kuno dan budaya modern menyatu dalam berbagai festival sepanjang tahun. Warisan masa lalu terlihat jelas melalui Feriae Publicae, yaitu kalender kuno yang mencakup 58 festival tetap, termasuk Lupercalia di bulan Februari dan Saturnalia di bulan Desember. Salah satu momen paling istimewa adalah Parilia pada tanggal 21 April, yang dirayakan sebagai hari ulang tahun berdirinya kota Roma oleh Romulus.
Memasuki era modern, nuansa keagamaan Katolik sangat kental dalam berbagai festival, seperti perayaan Epifani setiap 6 Januari yang menampilkan tokoh legendaris Befana. Saat musim panas, suasana kota menjadi semarak dengan festival Lungo il Tevere di sepanjang tepi Sungai Tiber. Di distrik Trastevere, penduduk lokal merayakan Festa dei Noantri pada bulan Juli dengan prosesi patung Madonna yang unik. Bagi pecinta alam, terdapat Festival Hijau dan Lanskap di musim semi. Terakhir, bagi penikmat seni kontemporer, Festival Roma Europa di musim gugur menampilkan pertunjukan musik, tari, dan teater inovatif dari seniman dunia.

Fakta-fakta menarik ini hanyalah permulaan dari ribuan cerita yang tersimpan di bawah lapisan tanah Kota Abadi. Roma mengajarkan bahwa kejayaan bukan hanya tentang seberapa besar sebuah kekaisaran dibangun, melainkan seberapa dalam jejak budaya yang ditinggalkannya bagi generasi mendatang. Di balik riuh kota yang modern, denyut nadi sejarah kuno masih terasa nyata, menjadikan setiap kunjungan ke sana sebuah perjalanan melintasi waktu yang tak terlupakan.