Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan konsumen terhadap frozen food berbasis daging impor terus meningkat di berbagai kota besar di Indonesia. Faktor seperti gaya hidup yang sibuk, kebutuhan protein yang tinggi, festival kuliner modern, dan perdagangan global yang makin terhubung membuat bisnis ini sangat menarik bagi pelaku usaha — baik UMKM maupun perusahaan skala menengah. Namun, memulai bisnis ini bukan soal jualan produk beku semata. Ada banyak aspek legal, teknis, dan strategi pemasaran yang harus dipahami sejak awal supaya usaha Anda tidak jalan di tempat.
Dalam panduan ini, kami akan membahasnya langkah demi langkah — dari mulai riset produk dan pasar, persiapan dokumen izin, proses impor daging, sampai pemasaran & pengelolaan bisnisnya secara profesional.
1. Menentukan Konsep Bisnis Frozen Food Daging Impor
Sebelum bicara soal izin dan impor, langkah pertama adalah menentukan model bisnis yang ingin dijalankan.
A. Pilih Segmen Produk
Dalam bisnis daging impor, segmen pasar Anda bisa berbeda-beda, misalnya:
-
Daging utuh beku (whole cuts) — seperti sirloin, tenderloin, brisket.
-
Daging cincang / processed cuts — cocok untuk ragam frozen food olahan (meatball, burger, sosis premium).
-
Mixed products — kombinasi daging sapi, ayam, atau kambing sesuai permintaan pasar.
B. Tentukan Target Pasar
Target yang berbeda membutuhkan strategi yang juga berbeda:
| Target Pasar | Strategi Produk | Contoh Channel Penjualan |
|---|---|---|
| Konsumen Rumah Tangga | Pack retail kecil, fokus convenience | Marketplace, Instagram |
| Restoran & Katering (HOREKA) | Volume besar, harga kompetitif | Sales langsung, B2B |
| Retail Modern | Produk branded berkualitas | Distributor, supermarket |
Menentukan segmen awal penting karena akan mempengaruhi keputusan berikutnya seperti jumlah modal, jenis peralatan, serta strategi pemasaran.
2. Legalitas Dasar yang Harus Disiapkan
Bisnis yang baik bukan hanya soal jualan produk — tetapi berjalan secara legal. Untuk bisnis frozen food daging impor di Indonesia, dokumen legalitas tidak bisa diabaikan karena akan berhubungan langsung dengan proses impor serta izin penjualan di pasar domestik.
A. Nomor Induk Berusaha (NIB)
NIB adalah identitas utama usaha di Indonesia, yang digunakan untuk semua dokumen izin lain dan wajib dimiliki setiap pelaku usaha. Proses registrasinya dilakukan melalui sistem OSS (Online Single Submission) pemerintah. UKMINDONESIA
Setelah memiliki NIB, Anda akan mendapatkan beberapa izin dasar seperti:
- API (Angka Pengenal Importir)
- TDP atau SIUP (izin usaha perdagangan)
- NPWP perusahaan
Semua ini akan menjadi dasar untuk mengurus izin impor dan penjualan.
B. Sertifikat NKV (Nomor Kontrol Veteriner)
Untuk bisnis yang menyentuh produk daging, Anda harus memiliki fasilitas penyimpanan atau kerja sama dengan cold storage yang memiliki NKV (Nomor Kontrol Veteriner). Ini memungkinkan pemerintah tahu bahwa produk Anda tersimpan sesuai standar kesehatan hewan.
C. Izin BPOM / Label Produk Impor
Karena daging impor adalah produk makanan, Anda wajib mengurus registrasi makanan di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Setelah terdaftar di sistem BPOM, produk Anda akan mendapatkan nomor ML (Makanan Luar) dan boleh dipasarkan di Indonesia.
Selain BPOM, semua frozen food wajib mencantumkan label produk berbahasa Indonesia yang mencakup kandungan nutrisi, tanggal kadaluarsa, serta informasi produsen/importir.
D. Sertifikat Halal & Standar Keamanan Produk
Untuk daging impor tertentu — terutama yang akan dipasarkan ke konsumen umum — sertifikat halal dari lembaga yang diakui MUI sangat penting dan kini semakin menjadi standar pakem, apalagi karena konsumen Indonesia mayoritas muslim.
Selain itu, produk pangan juga bisa memerlukan standar lain seperti SNI (Standar Nasional Indonesia) tergantung kategori produknya, meskipun tidak semua produk frozen food wajib SNI.
3. Riset Pasar & Analisa Kompetitor
Sebelum melakukan impor, riset pasar adalah investasi penting agar barang yang Anda bawa masuk nanti memang punya permintaan yang kuat.
A. Kebutuhan Pasar
Beberapa pertanyaan yang harus dijawab:
-
Produk apa yang paling banyak dicari? (mis. sirloin vs brisket vs daging cincang)
-
Apakah target pasar utama adalah konsumen akhir atau bisnis HOREKA?
-
Berapa harga pasar saat ini untuk produk sejenis?
Selain itu, perhatikan juga kompetitor yang sudah ada — bagaimana mereka memasarkan produknya, harga jual, sampai pendekatan branding mereka.
4. Menjalin Hubungan dengan Supplier & Negosiasi
Anda tidak bisa impor daging tanpa supplier atau produsen di luar negeri. Beberapa negara sumber daging impor terbesar ke Indonesia adalah Australia, Selandia Baru, dan Brasil karena kualitas dagingnya yang tinggi dan jaringan pasok yang mapan.
A. Cara Cari Supplier
Beberapa metode efektif untuk menemukan supplier:
-
Platform B2B global seperti Alibaba, Global Sources, TradeKey
-
Mengikuti pameran dagang di negara target
-
Meminta rekomendasi lewat jaringan bisnis internasional
Saat bernegosiasi dengan supplier, pastikan Anda mendapatkan:
- Sertifikat kesehatan (Health Certificate) dari negara asal
- Phytosanitary Certificate (menyatakan bebas dari penyakit hewan tertentu)
- Kemasan, jenis daging, dan jumlah pesanan minimum (MOQ) yang sesuai dengan modal Anda
Meminta sample produk terlebih dahulu sangat disarankan supaya Anda bisa menilai kualitasnya secara langsung.
5. Proses Impor Daging Beku (Teknis & Dokumen)
Impor merupakan bagian paling teknis dan sering jadi hambatan terbesar bagi pemula. Berikut alur umumnya:
A. DOKUMEN DASAR YANG DIBUTUHKAN
| Dokumen | Penjelasan |
|---|---|
| Import Permit | Izin resmi yang dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan |
| Import Recommendation | Rekomendasi teknis dari Kementerian Pertanian |
| Health Certificate | Sertifikat kesehatan dari negara asal |
| Certificate of Origin | Menyatakan asal barang |
| Packing List & Invoice | Dokumen komersial untuk bea cukai |
Permohonan semua dokumen di atas dilakukan via sistem INSW (Indonesia National Single Window) yang memudahkan pengurusan dan menampilkan integrasi persyaratan kementerian terkait.
B. Bea Cukai & Karantina
Setelah barang tiba di pelabuhan Indonesia, bea cukai akan mengecek dokumen yang Anda ajukan — termasuk sertifikat kesehatan, rekomendasi impor, dan BPOM. Jika semua lengkap, barang dapat melewati proses clearance dan pemeriksaan karantina hewan.
Kesalahan dokumen seperti HS code yang salah, sertifikat yang tidak valid, atau label yang tidak sesuai bisa menyebabkan tertahannya barang atau bahkan penyitaan.
6. Cold Chain: Penyimpanan & Logistik
Untuk produk beku seperti daging impor, cold chain adalah tulang punggung bisnis Anda. Salah satu faktor utama kenapa produk tetap berkualitas sampai ke konsumen adalah pengendalian suhu.
A. Standar Penyimpanan
Selama transit internasional, suhu ideal untuk daging beku berkisar antara –18°C sampai –22°C untuk menjaga kesegaran dan mencegah kerusakan mikroba.
Setelah di Indonesia, Anda juga membutuhkan:
-
Cold storage utama (baik milik sendiri atau sewa)
-
Freezer retail untuk display
-
Alat monitoring suhu digital
-
Transportasi berpendingin untuk distribusi ke konsumen atau outlet
7. Strategi Pengemasan & Branding Produk
Pengemasan adalah senjata penting di pasar frozen food karena konsumen modern membeli dengan mata:
-
Gunakan kemasan vakum food grade yang menunjukkan potongan daging secara jelas
-
Cantumkan label berbahasa Indonesia sesuai aturan BPOM
-
Sertakan informasi vitamin/nutrisi, halal, tanggal produksi & kedaluwarsa
Branding harus bisa menggambarkan kualitas dan nilai produk Anda — seperti premium Australian beef, atau grass-fed imported cut — agar bisa bersaing dengan produk lokal dan impor lain.
8. Saluran Penjualan & Distribusi
Bisnis ini bisa dibangun melalui beberapa kanal:
A. Online Marketplace
Platform seperti Tokopedia, Shopee, dan marketplace khusus makanan beku memungkinkan Anda menjangkau konsumen rumah tangga dengan cepat.
B. Direct Sales & B2B
Supply ke:
-
Restoran
-
Hotel
-
Catering
-
Retail modern seperti supermarket
Biasanya margin penjualan B2B lebih tinggi dan frekuensi transaksi besar.
C. Media Sosial & Website
Bangun kredibilitas brand lewat konten edukatif (cara menyimpan, resep masak, tips pemilihan daging), serta gunakan sistem pemesanan lewat Instagram Business dan WhatsApp.
9. Manajemen Keuangan & Proyeksi Usaha
A. Simulasi Modal Awal
| Komponen | Biaya (Rp) |
|---|---|
| Stok awal daging impor (100 kg) | 20.000.000 |
| Freezer & cold storage kecil | 10.000.000 |
| Pengemasan & label | 3.000.000 |
| Izin & legalitas | 5.000.000 |
| Marketing awal | 5.000.000 |
| Kontinjensi | 5.000.000 |
| Total | ~48.000.000 |
B. Proyeksi Laba
| Item | Perkiraan |
|---|---|
| Harga beli per kg | Rp 200.000 |
| Harga jual per kg | Rp 250.000 |
| Laba kotor per kg | Rp 50.000 |
| Penjualan 100 kg/bulan | Rp 5.000.000 |
| BEP (Balik Modal) | ± 8–12 bulan |
Angka di atas hanya ilustrasi; realisasinya tergantung pada strategi harga, target pasar, dan kontrol biaya Anda.
10. Tantangan & Tips Praktis
Tantangan Utama
-
Proses impor yang kompleks dan butuh waktu
-
Dokumen yang harus sangat akurat
-
Risiko kerusakan produk jika cold chain gagal
Tips Sukses
✔ Pastikan cold storage dan transport berstandar tinggi
✔ Gunakan jasa customs broker atau PPJK profesional jika perlu
✔ Fokus membangun brand & edukasi konsumen
✔ Kembangkan produk baru berdasarkan feedback pasar
Kesimpulan
Memulai bisnis frozen food daging impor bukan hanya soal membawa produk masuk ke Indonesia, tapi juga memahami regulasi, membangun sistem penyimpanan & distribusi yang kokoh, serta strategi pemasaran yang tepat. Dengan riset pasar yang matang, legalitas yang lengkap, serta fokus pada kualitas produk dan pengalaman konsumen, bisnis ini punya potensi besar menjadi sumber pendapatan yang stabil dan berkembang di masa depan.
