Lumut di Dekorasi Natal Simpan DNA Hewan Sekitar

Lumut: Kapsul Waktu DNA Alami untuk Memantau Keanekaragaman Hayati

Dekorasi Natal yang identik dengan lumut hijau lembut, ternyata menyimpan potensi luar biasa yang belum banyak disadari. Tanaman yang kerap menghiasi rumah-rumah saat perayaan akhir tahun ini, menurut studi terbaru yang dipimpin oleh University of Copenhagen, dapat berfungsi sebagai "kapsul waktu" DNA, menyimpan jejak genetik dari berbagai makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Penemuan ini membuka jalan baru yang menjanjikan dalam upaya pemantauan keanekaragaman hayati di tengah ancaman krisis lingkungan global.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Ecology Resources ini mengungkapkan bahwa lumut bertindak sebagai pengumpul alami environmental DNA (eDNA). Struktur lumut yang menyerupai spons ini mampu memerangkap partikel-partikel genetik dari hewan, tumbuhan, hingga mikroorganisme yang bergerak di suatu wilayah seiring berjalannya waktu. Kemampuan ini menjadikan lumut sebagai kandidat solusi inovatif untuk metode pemantauan biodiversitas yang sederhana, andal, dan mudah diakses.

Inspirasi Tak Terduga dari Pengalaman Lapangan

Gagasan revolusioner ini bermula dari sebuah insiden yang dialami oleh ahli biologi Kasun Bodawatta saat melakukan kerja lapangan di Pulau Christiansø, Denmark. "Saya sedang melakukan kerja lapangan di Pulau Christiansø, Denmark, ketika saya tersandung dan jatuh di atas hamparan lumut yang lembut. Lalu saya berpikir: Hei, ini seperti spons," ungkap Bodawatta. Pengamatan sederhana ini memicu sebuah hipotesis: mungkinkah lumut berfungsi seperti spons laut yang mampu menyerap dan menyimpan eDNA dari lingkungannya?

Uji Coba yang Mengejutkan

Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti mengumpulkan sampel lumut berukuran kecil, masing-masing hanya 6 x 6 sentimeter, dari Lille Vildmose, sebuah kawasan cagar alam di Denmark. Meskipun ukurannya minimal, sampel-sampel ini terbukti kaya akan informasi genetik.

Hasil analisis mengejutkan tim peneliti. Dari sampel lumut tersebut, mereka berhasil mendeteksi keberadaan DNA dari:

  • 13 spesies burung, termasuk angsa abu-abu dan common redstart.
  • 11 spesies mamalia, seperti bison, luak, dan kelelawar pipistrelle.
  • 2 spesies amfibi.
  • 54 invertebrata.
  • 21 tumbuhan.
  • 553 genus bakteri.
  • 210 genus jamur.

"Dengan hanya mengusap permukaan potongan kecil lumut menggunakan kapas, kami dapat mendeteksi hewan liar lokal seperti bison dan luak—dan bukan hanya DNA babi yang tersebar luas di sebagian besar lanskap Denmark," jelas Bodawatta. "Ini menunjukkan potensi besar lumut untuk memantau keanekaragaman hayati alami."

Alternatif Praktis untuk Pemantauan eDNA

Metode eDNA sendiri telah lama dimanfaatkan untuk memantau ekosistem perairan, seperti sungai dan laut. Namun, penerapannya di darat seringkali menghadapi kendala signifikan, termasuk kebutuhan akan peralatan mahal, keahlian khusus, dan pasokan listrik yang stabil. Lumut menawarkan sebuah terobosan dengan menyediakan alternatif yang jauh lebih praktis. Kemampuannya menangkap partikel DNA dari udara, hujan, maupun hewan yang melintas menjadikannya solusi yang ideal untuk daerah terpencil atau minim infrastruktur.

Potensi Global dan Penerapan di Berbagai Habitat

Untuk menguji potensi penerapan metode ini secara global, para peneliti tidak berhenti pada sampel dari Denmark. Mereka juga mengumpulkan sampel lumut dari habitat hutan dan sabana di Pantai Gading. Hasilnya pun konsisten: lumut di wilayah tropis ini juga menyimpan kekayaan informasi genetik yang melimpah.

"Hal istimewa dari lumut adalah ia ditemukan di hampir setiap benua dan, tidak seperti sebagian besar metode lain, pendekatan dengan kapas ini tidak memerlukan listrik, peralatan mahal, atau kerja lapangan yang terspesialisasi," ujar Kathrin Rousk, salah satu penulis studi. "Pada prinsipnya, Anda bisa berjalan-jalan di hutan, mengusap segenggam lumut, dan mendapatkan sidik biologis suatu area."

Metode Ramah Lingkungan dan Inklusif

Selain kesederhanaannya, metode pemantauan menggunakan lumut ini juga sangat ramah lingkungan. Lumut tidak perlu diambil atau dihancurkan dalam prosesnya, sehingga meminimalkan dampak terhadap habitat. Hal ini menjadikannya sangat cocok untuk diterapkan di kawasan ekosistem yang rapuh atau dilindungi. Lebih jauh lagi, metode ini membuka peluang besar untuk proyek sains warga (citizen science), di mana masyarakat umum dapat berpartisipasi aktif dalam pemantauan keanekaragaman hayati di lingkungan sekitar mereka.

Jejak Genetik Jangka Panjang

Peneliti juga dibuat terkesan dengan kemampuan lumut dalam menangkap DNA dari hewan yang terbang di udara. Di Pantai Gading, sampel lumut bahkan berhasil mengungkap DNA dari spesies burung langka yang saat ini sudah tidak lagi ditemukan di lokasi tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa lumut memiliki kemampuan untuk menyimpan jejak genetik dalam jangka waktu yang cukup lama, menjadikannya arsip biologis yang berharga.

"Hal yang menarik adalah sesuatu yang sesederhana lumut ternyata bisa memberi tahu kita begitu banyak tentang alam di sekitar kita," pungkas Bodawatta. "Kami masih perlu menyempurnakan teknik ini, tapi lumut sangat menjanjikan sebagai cara untuk memantau kehidupan hewan dan tumbuhan di seluruh dunia." Dengan potensi yang ditawarkan, lumut bukan lagi sekadar elemen dekoratif, melainkan jendela baru menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kekayaan hayati planet kita.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama