Saham Bank: Kilas Balik 2025, Puncak 43% Menggiurkan

Pergerakan saham sektor perbankan pada penutupan perdagangan tahun 2025 menunjukkan dinamika yang bervariasi, mencerminkan sentimen pasar yang beragam terhadap kinerja emiten bank. Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (30/12/2025) menyaksikan sejumlah saham bank besar masih berada di zona merah secara tahunan (year-to-date/YtD), sementara emiten bank lain justru mampu mencatatkan penguatan signifikan.

Saham Bank Besar dalam Tekanan

Sektor perbankan, yang seringkali menjadi barometer kinerja ekonomi, menghadapi tantangan pada akhir tahun 2025. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, dibuka melemah di level Rp7.950 per saham, turun 0,93% atau 75 poin dari penutupan sebelumnya. Tekanan ini membuat kinerja saham BBCA secara YtD terkoreksi cukup dalam, yakni 17,31% atau setara penurunan 1.675 poin.

Bank Central Asia Tbk. - TradingView

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga tidak luput dari tekanan. Saham bank pelat merah ini dibuka stagnan di level Rp5.075 per saham. Namun, dalam beberapa menit awal perdagangan, saham BMRI sempat tertekan hingga menyentuh level terendah di Rp5.050 per saham. Secara YtD, saham BMRI tercatat melemah 10,53% atau turun sekitar 600 poin.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) juga mengalami hal serupa. Saham BBRI dibuka di level Rp3.690 per saham atau turun 2,38% setara 90 poin. Sepanjang tahun 2025, saham BBRI telah terkoreksi 10,05% atau sekitar 410 poin, menunjukkan bahwa tekanan masih membayangi saham perbankan besar.

Pergerakan Bervariasi di Tengah Ketidakpastian

Namun, tidak semua saham perbankan besar mengalami tren penurunan yang sama. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menunjukkan pergerakan yang lebih fluktuatif. Saham BNI dibuka di level Rp4.260 per saham, sempat melemah ke Rp4.250, sebelum akhirnya berbalik menguat ke Rp4.310 per saham. Meskipun demikian, secara YtD, saham BBNI masih tercatat turun tipis 1,61% atau sekitar 70 poin.

Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) dibuka di level Rp2.260 per saham sebelum melemah 0,88% atau 20 poin ke Rp2.240 per saham. Saham BRIS sempat bangkit ke level Rp2.270 per saham, namun secara YtD masih tertekan cukup dalam dengan penurunan 17,95% atau sekitar 490 poin.

Sinar Positif dari Beberapa Emiten

Di tengah tekanan yang dialami beberapa bank besar, ada pula emiten yang menunjukkan kinerja positif. Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) menunjukkan pergerakan positif. Saham BTN dibuka di level Rp1.150 per saham, sama dengan harga penutupan sebelumnya, sebelum menguat ke Rp1.165 per saham. Secara YtD, saham BBTN masih mampu mencatatkan kenaikan 0,88% atau sekitar 10 poin.

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. - TradingView

Kinerja positif juga terlihat pada saham PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA). Saham BNGA dibuka di level Rp1.745 per saham dan sempat menyentuh level tertinggi Rp1.760 per saham. Sepanjang 2025, saham BNGA telah menguat 1,45% atau sekitar 25 poin.

Penguatan Signifikan dan Pendatang Baru yang Mencuri Perhatian

Beberapa emiten berhasil mencatatkan penguatan signifikan. Saham PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPS) menjadi salah satu yang paling menonjol. Saham BTPS dibuka di level Rp1.210 per saham dengan rentang perdagangan di kisaran Rp1.190 hingga Rp1.210 per saham. Secara YtD, saham BTPS melonjak 30,27% atau sekitar 280 poin.

Penguatan tajam juga tercatat pada saham PT KB Indonesia Tbk. (BBKP). Saham BBKP mayoritas bergerak stagnan di level Rp78 per saham sejak pembukaan perdagangan. Namun, secara tahunan, saham BBKP melesat 42,59% atau naik sekitar 23 poin.

Emiten pendatang baru, PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA), yang resmi melantai di BEI pada 17 Desember 2025, turut mencuri perhatian pasar. Saham SUPA dibuka di level Rp915 per saham. Saham ini sempat menyentuh level tertinggi Rp935 per saham pada perdagangan hari ini dan terendah Rp905 per saham. Secara YtD, saham SUPA menguat 43,31% atau sekitar 275 poin, menunjukkan potensi yang besar dari pemain baru di industri perbankan digital.

Bank Digital dan Perbankan Syariah

Saham PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO), bank digital anak usaha BRI, dibuka di level Rp228 per saham. Saham AGRO sempat menguat ke Rp236 per saham meski kembali turun ke level pembukaan. Sepanjang tahun berjalan, saham AGRO tercatat bergerak stagnan, mencerminkan tantangan dalam menavigasi pasar bank digital yang kompetitif.

Terakhir, saham PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) dibuka di level Rp1.365 per saham dengan pergerakan di rentang Rp1.360 hingga Rp1.370 per saham. Secara YtD, saham NISP masih mencatatkan kenaikan 3,80% atau sekitar 50 poin, menunjukkan stabilitas yang relatif baik di tengah fluktuasi pasar.

Pergerakan beragam saham perbankan ini mencerminkan dinamika sentimen pasar menjelang penutupan perdagangan 2025. Investor tampaknya melakukan seleksi yang ketat terhadap kinerja, valuasi, dan prospek masing-masing emiten bank ke depan. Faktor-faktor makroekonomi, kebijakan moneter, serta inovasi digital diperkirakan akan terus membentuk arah pergerakan saham sektor perbankan di tahun-tahun mendatang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama