Penjualan ORI029 Tidak Capai Target, Ini Penjelasan Kemenkeu

Penjualan Obligasi Negara Ritel ORI029 Tidak Mencapai Target

Penjualan obligasi negara ritel seri ORI029 tidak memenuhi target yang ditetapkan sebesar Rp 25 triliun hingga akhir masa penawaran. Hanya mencapai Rp 14,4 triliun atau sekitar 57,9% dari target yang diharapkan. Hal ini menunjukkan bahwa minat investor terhadap instrumen investasi tersebut kurang optimal.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto menjelaskan bahwa beberapa faktor memengaruhi rendahnya penjualan ORI029. Salah satunya adalah karena tidak ada Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang jatuh tempo selama periode penawaran. Hal ini mengurangi peluang reinvestasi dari investor yang sudah ada, sehingga dana yang masuk ke ORI029 berasal dari sumber baru atau fresh money.

Meski secara nominal terlihat lebih rendah, minat investor ritel tetap cukup besar. Menurut Suminto, situasi ini menunjukkan bahwa meskipun penjualan tidak mencapai target, potensi pasar masih ada.

Selain itu, kondisi musiman juga berdampak pada penjualan ORI029. Masa penawaran bertepatan dengan periode long weekend, serta mendekati bulan Ramadan dan perayaan Imlek. Situasi ini membuat masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan likuiditas, sehingga alokasi dana untuk investasi menjadi lebih terbatas.

Prospek Penerbitan SBN Ritel Tahun 2026

Meski penjualan ORI029 terbilang sepi, pemerintah tetap optimistis terhadap prospek penerbitan SBN ritel sepanjang 2026. Kemenkeu menilai struktur SBN Ritel yang variatif baik dari sisi jenis kupon, tenor, maupun waktu penerbitan masih mampu menjawab kebutuhan investor dengan profil yang beragam.

Pemerintah memiliki ruang kebijakan untuk menyesuaikan struktur kupon, tenor, maupun kalender penerbitan dengan mempertimbangkan kondisi pasar keuangan, likuiditas domestik, serta perkembangan suku bunga.

Ke depan, menurut Suminto, SBN Ritel dinilai masih memiliki prospek yang cukup baik. Selain menawarkan imbal hasil yang kompetitif, instrumen ini juga memberikan alternatif investasi yang aman, mudah diakses, dan semakin relevan bagi generasi muda yang mulai membangun dan mendiversifikasi portofolio investasinya.

Data Penyerapan ORI029

Berdasarkan data yang dipublikasikan salah satu mitra distribusi ORI029, PT Bibit Tumbuh Bersama (Bibit), hingga akhir periode penawaran, ORI029 tenor 3 tahun dengan imbal hasil 5,45% hanya terserap sebesar 73,22% dari total kuota yang disediakan pemerintah. Sedangkan ORI029 tenor 6 tahun dengan imbal hasil 5,8% hanya terserap sebesar 34,95%.

Perbandingan Kupon ORI029 dengan Bunga Deposito Bank

Kupon ORI029 sebenarnya lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito perbankan yang saat ini mencapai 4-5%. Namun, lebih rendah dibandingkan dengan kupon ORI seri-seri sebelumnya yang dapat mencapai 6-7% dan beberapa bunga deposito bank digital saat ini.

Beberapa bank digital menawarkan bunga deposito yang lebih tinggi daripada kupon ORI029, seperti:

  • Superbank: menawarkan bunga deposito hingga 7,5% per tahun.
  • Bank Neo Commerce: menawarkan bunga deposito hingga 7,5% per tahun.
  • Bank Amar: menawarkan bunga deposito hingga 9% per tahun.
  • Allo Bank: menawarkan bunga deposito hingga 7,5% per tahun.
  • Bank Jago: menawarkan bunga deposito maksimal sebesar 6%.

Perbedaan Pajak Bunga Deposito dan ORI

Meski bunga deposito yang ditawarkan beberapa bank digital lebih tinggi, pajak atas bunga deposito lebih besar dibandingkan pajak atas obligasi, termasuk ORI. Pajak penghasilan atau PPh atas bunga deposito ditetapkan sebesar 20%, sedangkan PPh atas obligasi ditetapkan sebesar 10%.

Berikut simulasi keuntungan antara deposito dan ORI:

  • Jika nasabah memiliki uang sebesar Rp 10 juta dan menempatkannya di deposito dengan bunga 7,5% per tahun, maka bunga yang diperoleh sebesar Rp 750.000. Setelah dipotong pajak 20%, bunga bersih yang diperoleh sebesar Rp 600 ribu.
  • Jika nasabah menempatkan uang sebesar Rp 10 juta di ORI029 dengan kupon 5,8% per tahun, maka imbal hasil yang akan diperoleh sebesar Rp 580.000. Setelah dipotong pajak 10%, imbal hasil bersih yang diperoleh sebesar Rp 464 ribu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama