Menjaga Kalimas dari Hati Kepedulian

Menjaga Kalimas dari Hati Kepedulian

Kegiatan Bersih-Bersih Sungai Kalimas di Surabaya: Kolaborasi untuk Lingkungan yang Lebih Baik

Pagi yang masih segar, saat ribuan orang mulai bergerak menyusuri tepian Sungai Kalimas di Surabaya. Udara belum sepenuhnya hangat, tetapi semangat peserta terasa sejak langkah pertama mereka menuruni bantaran sungai. Di beberapa titik, orang-orang bahkan tak ragu menceburkan diri ke air, mengangkat sampah plastik dan menyingkirkan eceng gondok yang menumpuk.

Di antara para peserta ada Lucky (45), salah satu koordinator Kader Surabaya Hebat (KSH) dari wilayah Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. Ia datang membawa peralatan sederhana seperti sapu lidi dan serok sampah. Setiap RT mengutus lima orang, dan dari Tembok Dukuh sendiri ada sekitar 50 orang yang ikut. Bagi Lucky, kegiatan ini bukan sekadar kerja bakti biasa. Ia melihatnya sebagai cara menumbuhkan kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif.

“Kegiatan ini bagus untuk merawat lingkungan. Masyarakat dilibatkan langsung menjaga kebersihan. Jadi ada kesadaran bahwa menjaga kota bukan hanya tugas dinas kebersihan, tapi tanggung jawab kita semua,” ujarnya. Ia berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada satu momentum saja. “Kalau bisa dilakukan secara rutin, sehingga menjadi budaya lingkungan yang berkelanjutan.”

Harapan serupa datang dari Ainum (44), warga lain yang ikut dalam aksi bersih-bersih itu. Menurutnya, gerakan seperti ini perlu diperluas ke ruang-ruang publik lain di Surabaya. “Kegiatannya bagus. Tapi harapan saya juga dilakukan di tempat lain, misalnya taman kota atau di pinggir pantai. Di sana masih sering terlihat banyak sampah,” katanya.

Pagi itu, tak kurang dari 5.280 orang terlibat dalam aksi bersih Sungai Kalimas. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari Kader Surabaya Hebat, komunitas lingkungan, masyarakat umum, hingga unsur TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Kegiatan yang dikenal sebagai Korve Kalimas 2026 itu menjadi bagian dari Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah), sebuah gerakan nasional yang digagas pemerintah untuk memperkuat budaya bersih dan mempercepat penanganan persoalan sampah secara terintegrasi.

Hadirnya Menteri Lingkungan Hidup

Kegiatan tersebut semakin menarik karena dihadiri langsung oleh Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH). Aksi bersih sungai dimulai dari kawasan Monumen Kapal Selam Surabaya, salah satu ikon kota yang berdiri di tepi Sungai Kalimas. Di lokasi ini digelar apel pagi yang diawali laporan dari Wali Kota Surabaya kepada Menteri. Hadir mendampingi Menteri antara lain Walikota Surabaya, Eri Cahyadi, Kepala Staf Komando Garnisun Tetap III/Surabaya Brigjen TNI (Marinir) Danuri, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur Nurkholis.

Setelah apel, para peserta langsung bergerak melakukan kerja bakti di sekitar kawasan tersebut. Sebagian memungut sampah di bantaran sungai, sebagian lain menyingkirkan tanaman air yang menumpuk di permukaan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan susur Sungai Kalimas. Sebanyak 19 perahu karet dikerahkan untuk menyisir aliran sungai dari dermaga Monumen Kapal Selam menuju kawasan Siola Surabaya. Dari jumlah itu, 10 perahu karet dikerahkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur untuk mendukung kegiatan susur sungai.

Partisipasi Aktif dan Kolaborasi

Menariknya, rombongan wartawan dari berbagai media juga ikut dalam kegiatan susur Sungai Kalimas tersebut. Dari atas perahu, mereka mengikuti jalannya kegiatan sambil turut memungut sampah yang mengapung di permukaan sungai. Di atas perahu, Menteri dan rombongan tak sekadar meninjau. Mereka ikut memungut sampah yang mengapung di permukaan air dan membantu membersihkan eceng gondok yang menghambat aliran sungai.

Bagi Menteri Hanif, aksi bersih sungai ini bukan sekadar kegiatan simbolik. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan, terutama di kawasan perkotaan. “Kegiatan aksi bersih sungai dan kerja bakti lingkungan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan, khususnya di kawasan perkotaan,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan sampah dan pencemaran lingkungan tidak bisa diselesaikan secara parsial. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, hingga masyarakat.

Penilaian Adipura dan Harapan Masa Depan

Gerakan Indonesia ASRI sendiri merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang mendorong penguatan budaya bersih dan peningkatan kepedulian kolektif terhadap lingkungan. Dalam kesempatan itu, Menteri juga mengapresiasi kinerja Kota Surabaya dalam pengelolaan sampah. Berdasarkan penilaian KLH/BPLH tahun 2025, Surabaya tercatat sebagai kota dengan kinerja terbaik dalam pengelolaan sampah dan memperoleh sertifikat menuju kota bersih dalam penilaian Adipura.

Meski pemerintah pusat tidak menetapkan satu pun kota sebagai penerima Piala Adipura pada penilaian Adipura tahun 2025, Surabaya tetap berada di peringkat teratas kota penerima Sertifikat Adipura dengan capaian nilai penilaian tertinggi dibanding kota-kota lainnya di Indonesia. Data KLH/BPLH juga menunjukkan timbulan sampah di Surabaya mencapai sekitar 1.810,81 ton per hari, dengan sekitar 31,49 ton per hari atau 1,74 persen yang masih belum terkelola secara optimal.

Menurut Menteri, Surabaya diharapkan dapat terus menjadi kota percontohan nasional dalam pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan kinerjanya agar kembali meraih penghargaan Adipura di masa mendatang. “Kota yang bersih tidak bisa diwujudkan hanya melalui satu kegiatan. Aksi bersih-bersih harus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan dengan melibatkan pemerintah, dunia usaha, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat,” katanya.

Momentum Kesadaran Publik

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat dalam memperkuat berbagai program pengelolaan lingkungan di kota tersebut. “Kami menyampaikan terima kasih atas dukungan pemerintah pusat dalam memperkuat program pengelolaan lingkungan di Surabaya, terutama dalam menjaga kebersihan sungai dan ruang publik,” ujarnya.

Setibanya di kawasan Siola, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon cemara udang serta kerja bakti bersama warga Kelurahan Gemblongan. Dan, diakhiri dengan doorstop dengan wartawan berbagai media. Bagi pemerintah, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.

Kalimas, yang sejak lama menjadi salah satu urat nadi Kota Surabaya, pagi itu tidak hanya menjadi saksi kerja bakti besar-besaran. Ia juga menjadi ruang perjumpaan antara pemerintah dan warga yang sama-sama ingin melihat sungai itu kembali bersih, mengalir tanpa beban, seperti harapan tentang kota yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Usai menyelesaikan rangkaian kegiatan di Surabaya, Menteri Hanif melanjutkan kunjungan kerja ke Bojonegoro. Di daerah tersebut, ia memimpin apel bersama sekitar 500 peserta sebelum melaksanakan kerja bakti di sejumlah lokasi, mulai dari pasar hingga fasilitas pengolahan sampah berbasis masyarakat.

Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat semakin kuat dalam menjaga kebersihan sungai, pasar, dan kawasan permukiman, serta menumbuhkan kesadaran bahwa lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab bersama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama