Harapan Santa Claus rally di Wall Street diuji, saham AS masih bergejolak jelang tutup tahun

Volatilitas Wall Street Mendekati Akhir Tahun: Antara Harapan Liburan dan Kekhawatiran Ekonomi

Musim liburan seringkali diidentikkan dengan optimisme dan kenaikan di pasar saham Amerika Serikat, atau yang akrab disapa Wall Street. Namun, harapan akan sentimen positif khas liburan belum sepenuhnya terwujud hingga mendekati penghujung tahun. Sejumlah faktor kompleks telah memicu pergerakan pasar yang bergejolak, menciptakan ketidakpastian di kalangan investor.

Meskipun kinerja pasar saham AS secara keseluruhan sepanjang tahun ini terbilang solid, indeks acuan utama, S&P 500, justru mengalami pelemahan tipis sepanjang bulan Desember. Fenomena ini sedikit menyimpang dari pola historis, di mana bulan Desember biasanya menjadi salah satu periode yang cukup kuat bagi pasar saham.

Dalam beberapa pekan terakhir, dua isu utama telah menjadi sorotan dan memicu volatilitas di Wall Street:

  • Besarnya Belanja Infrastruktur Kecerdasan Buatan (AI): Investor semakin memberikan perhatian pada skala belanja perusahaan yang signifikan untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan.
  • Perubahan Ekspektasi Suku Bunga The Fed: Ada pergeseran ekspektasi pasar mengenai kemungkinan Federal Reserve (The Fed) akan melanjutkan pemangkasan suku bunga pada tahun 2026.

Pada pekan ini, saham-saham di sektor teknologi dan perusahaan yang terkait erat dengan AI sempat merasakan tekanan. Kekhawatiran mengenai proyek pusat data yang dijalankan oleh Oracle menjadi salah satu pemicu. Namun, tekanan tersebut sedikit mereda setelah data inflasi AS yang dirilis pada hari Kamis (waktu setempat) menunjukkan kenaikan harga yang lebih terkendali dari perkiraan.

"Data ekonomi pekan ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih cenderung memangkas suku bunga," ujar Angelo Kourkafas, seorang senior global investment strategist di Edward Jones. Ia menambahkan bahwa sebagian investor kemungkinan besar memilih untuk mengamankan keuntungan mereka setelah pasar mencatat kinerja yang kuat sepanjang tahun, yang pada gilirannya memicu tekanan jual. Meskipun demikian, data terbaru masih membuka peluang terjadinya fenomena yang dikenal sebagai "Santa Claus rally" tahun ini.

Secara historis, fenomena "Santa Claus rally" ditandai dengan kenaikan rata-rata indeks S&P 500 sekitar 1,3 persen dalam periode lima hari perdagangan terakhir bulan Desember dan dua hari perdagangan pertama bulan Januari. Menurut Stock Trader’s Almanac, fenomena ini telah terjadi sejak tahun 1950. Untuk tahun ini, periode tersebut berlangsung mulai hari Rabu hingga 5 Januari.

Tantangan Data Ekonomi dan Dampaknya

Di sisi lain, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi AS yang perilisannya sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan federal (government shutdown) yang berlangsung selama 43 hari. Laporan ketenagakerjaan, misalnya, menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang kembali meningkat pada bulan November. Namun, bersamaan dengan itu, tingkat pengangguran juga dilaporkan naik ke angka 4,6 persen, yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Laporan inflasi terbaru juga memberikan gambaran yang menarik. Indeks harga konsumen AS tercatat naik lebih rendah dari perkiraan hingga bulan November. Meskipun data ini memberikan sentimen positif bagi pasar, ada potensi bahwa angka tersebut masih dapat terdistorsi. Hal ini dikarenakan proses pengumpulan data yang tertunda hingga akhir November, bertepatan dengan periode diskon besar-besaran selama musim liburan.

The Fed sendiri telah mengambil langkah pemangkasan suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut. Kini, para investor secara cermat mengamati berbagai indikator ekonomi untuk memprediksi kapan bank sentral AS tersebut akan kembali melonggarkan kebijakan moneternya pada tahun 2026.

"Memasuki pekan depan, akan muncul pertanyaan besar mengenai arah kebijakan The Fed ke depan," kata Trevor Slaven, kepala global alokasi aset dan solusi portofolio multi-aset di Barings. Ia melanjutkan, "Ada ketidakpastian antara arah kebijakan bank-bank sentral utama dan arah pergerakan inflasi, pada saat data pasar tenaga kerja justru menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang semakin jelas."

Untuk pekan mendatang, sejumlah laporan ekonomi penting yang akan dirilis antara lain mencakup data produk domestik bruto (PDB) kuartal III, pesanan barang tahan lama, serta tingkat kepercayaan konsumen.

Peran Saham AI dan Pergeseran Sektor

Dalam pekan perdagangan yang lebih singkat karena libur, perhatian investor diperkirakan masih akan tertuju pada saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI), yang selama ini menjadi motor penggerak kenaikan pasar. Sepanjang tahun 2025 hingga saat ini, indeks S&P 500 telah mencatatkan penguatan lebih dari 15 persen dan berada di jalur yang tepat untuk mencatatkan kenaikan tahunan ketiga berturut-turut di atas 10 persen.

Namun, belakangan ini, muncul kekhawatiran terkait sektor AI. Pertanyaan mengenai kapan belanja infrastruktur yang sangat besar ini akan benar-benar menghasilkan keuntungan mulai menekan saham-saham teknologi yang sebelumnya mengalami lonjakan pesat. Mengingat sektor teknologi memiliki bobot paling besar dalam indeks utama seperti S&P 500, pergerakan di sektor ini sangat memengaruhi indeks secara keseluruhan.

“Mulai terlihat sikap skeptis terhadap besarnya belanja AI yang semakin menonjol,” ujar Mark Luschini, chief investment strategist di Janney Montgomery Scott. Menurutnya, dominasi saham teknologi dan emiten terkait teknologi dalam indeks berbasis kapitalisasi pasar turut memberikan tekanan pada pergerakan indeks secara keseluruhan.

Di sisi lain, sektor-sektor yang sebelumnya tertinggal sepanjang tahun ini mulai menunjukkan peranannya dalam menopang pasar. Sektor-sektor yang sensitif terhadap kondisi ekonomi, seperti transportasi, keuangan, dan saham berkapitalisasi kecil, tercatat menguat sepanjang bulan Desember.

“Kami melihat aliran dana mulai keluar dari saham teknologi,” kata Kourkafas. “Sektor lain mulai mengambil peran dan membantu menjaga pergerakan pasar cenderung bergerak terbatas.” Pergeseran ini mengindikasikan adanya diversifikasi minat investor, menjauh dari dominasi tunggal sektor teknologi, menuju sektor-sektor lain yang berpotensi memberikan imbal hasil stabil di tengah ketidakpastian pasar.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama