Membidik saham prospektif momentum Santa Claus rally: dari BMRI, ASII, hingga ANTM

Peluang Penguatan Pasar Saham Indonesia di Akhir Tahun: Mengintip Momentum "Santa Claus Rally"

Pasar saham Indonesia menunjukkan potensi penguatan signifikan menjelang akhir tahun, didorong oleh fenomena yang dikenal sebagai "Santa Claus Rally". Tren kenaikan harga saham yang lazim terjadi pada pekan terakhir Desember ini memberikan optimisme bagi para pelaku pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri telah mencatatkan performa impresif sepanjang tahun berjalan, mengindikasikan adanya momentum positif yang dapat berlanjut.

Performa IHSG dan Potensi "Santa Claus Rally"

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG telah membukukan kenaikan sebesar 21,61% secara year to date (ytd) hingga pekan lalu. Angka ini menunjukkan geliat pasar yang kuat, dan potensi untuk kembali meningkat jelang penutupan tahun semakin terbuka lebar. Momen "Santa Claus Rally" merujuk pada kecenderungan kenaikan harga saham yang seringkali terjadi di minggu terakhir bulan Desember, seringkali berlanjut hingga awal Januari tahun berikutnya.

Ekky Topan, Investment Analyst di Infovesta Kapital Advisori, menjelaskan bahwa fenomena ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor kunci. "Reli akhir tahun lebih banyak dipengaruhi oleh faktor likuiditas, arus masuk dana asing (inflow), dan fenomena window dressing," ujar Ekky. Ia menambahkan bahwa selama arus dana asing tetap positif dan volatilitas global mereda, terutama pasca pemangkasan suku bunga oleh The Fed, peluang penguatan tambahan masih sangat mungkin terjadi.

Faktor Pendorong Penguatan Pasar

Beberapa indikator utama perlu dicermati untuk memastikan kelanjutan tren positif ini. Keberlanjutan masuknya dana investor asing ke dalam saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps, khususnya di sektor perbankan besar, menjadi salah satu tolok ukur penting. Selain itu, stabilitas nilai tukar Rupiah menjelang akhir tahun juga memainkan peran krusial.

Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga memiliki dampak yang signifikan terhadap arus dana asing ke pasar berkembang seperti Indonesia. Dengan biaya modal global yang cenderung menurun, aset di negara-negara berkembang menjadi lebih menarik bagi para investor. Ekky memproyeksikan, "Dalam satu hingga dua bulan ke depan, saya melihat peluang aliran dana asing akan kembali meningkat, terutama jika Rupiah tetap stabil dan ekspektasi penurunan suku bunga Bank Indonesia pada semester I/2026 semakin menguat."

Saham-Saham Unggulan yang Patut Dicermati

Menjelang akhir tahun, saham-saham big caps dinilai masih memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan. Data menunjukkan bahwa indeks LQ45, yang mewakili saham-saham berkapitalisasi besar, hanya tumbuh 1,95% ytd, sementara IHSG melonjak lebih tinggi. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa reli pasar lebih banyak didorong oleh saham lapis kedua dan ketiga, bukan oleh emiten big caps semata.

Namun, Ekky berpendapat bahwa ketika likuiditas asing kembali deras mengalir, rotasi investasi ke saham-saham big caps cenderung menguat. Beberapa emiten yang berpotensi dilirik investor institusi menjelang periode window dressing antara lain:

  • Sektor Perbankan Besar:
    • PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA)
    • PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI)
    • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI)
  • Sektor Otomotif & Industri:
    • PT Astra International Tbk. (ASII)
  • Sektor Telekomunikasi:
    • PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM)
  • Sektor Energi:
    • Emiten energi besar lainnya yang memiliki kapitalisasi pasar signifikan.

Ekky menambahkan bahwa meskipun saham-saham mid-small caps kemungkinan akan tetap bergerak, kontribusi dominan dalam menggerakkan indeks menjelang akhir tahun biasanya kembali dipegang oleh big caps.

Pandangan dari Analis Lain dan Rekomendasi Saham

M. Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst di Mirae Asset Sekuritas, turut mengamini tren historis penguatan IHSG di bulan Desember, terutama pada beberapa hari menjelang penutupan perdagangan. Ia mengidentifikasi sejumlah faktor yang mendorong "Santa Claus Rally", antara lain:

  • Aktivitas Window Dressing dan Rebalancing Portofolio: Investor institusi cenderung mengambil posisi strategis dan melakukan penyesuaian alokasi aset di akhir tahun.
  • Volume Perdagangan yang Rendah: Periode liburan seringkali diiringi dengan volume perdagangan yang lebih rendah, sehingga harga saham menjadi lebih mudah bergerak naik ketika ada pembelian.
  • Sentimen Positif Liburan: Suasana liburan dan semangat berbagi (gift giving) dapat memicu optimisme di kalangan investor ritel.
  • Berita Ekonomi Positif dan Stimulus: Berita ekonomi yang positif menjelang tahun baru, termasuk potensi stimulus fiskal atau kebijakan baru yang dapat memacu pasar di tahun mendatang, dapat memicu anticipation rally.

Nafan merekomendasikan beberapa saham yang dapat dipertimbangkan oleh investor selama momen "Santa Claus Rally":

  • Sektor Pertambangan:
    • PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM)
    • PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI)
    • PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS)
  • Sektor Perbankan Besar:
    • BBCA
    • BMRI
  • Sektor Minyak dan Gas:
    • PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC)
    • PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG)
    • PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS)

Peluang penguatan pasar saham Indonesia di akhir tahun ini tampak menjanjikan, didukung oleh berbagai faktor fundamental dan sentimen positif. Investor disarankan untuk mencermati pergerakan pasar dan melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama