Revolusi Pengasapan Ikan: Kilang Pertamina Plaju Hadirkan Teknologi Rendah Emisi untuk UMKM
PALEMBANG – Inovasi brilian lahir dari Kilang Pertamina Plaju yang berhasil mentransformasi prinsip kerja kilang minyak menjadi alat kondensasi ikan asap rendah emisi. Teknologi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolah ikan asap, tetapi juga secara signifikan menekan emisi gas buang dan dampak negatif terhadap lingkungan. Inisiatif ini merupakan bagian integral dari Program Belida Musi Lestari, sebuah program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) RU III Plaju. Program ini secara komprehensif mengintegrasikan upaya konservasi alam, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penerapan teknologi hijau yang selaras dengan kompetensi inti perusahaan.
Mengadaptasi Prinsip Kilang untuk Kualitas Asap yang Lebih Baik
Teknologi canggih ini mengadopsi prinsip dasar yang sama dengan Crude Distillation Unit (CDU), sebuah unit krusial dalam operasional kilang minyak. CDU memanfaatkan proses pemanasan dan pengembunan (kondensasi) untuk memisahkan berbagai fraksi minyak mentah berdasarkan perbedaan titik didihnya. Prinsip inilah yang dimodifikasi secara cerdas untuk diaplikasikan dalam proses pengasapan ikan.
Dalam inovasi ini, asap yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar alami seperti kayu atau tempurung kelapa dialirkan melalui sebuah sistem pipa spiral yang didinginkan oleh air. Proses pendinginan ini bertujuan untuk menurunkan suhu asap secara drastis. Akibatnya, uap air yang terkandung dalam asap akan mengembun dan berubah menjadi asap cair atau yang dikenal sebagai liquid smoke.
Dengan penerapan sistem ini, asap yang sebelumnya hanya terbuang bebas ke atmosfer kini dapat dikelola secara optimal. Asap tersebut tidak hanya diubah menjadi produk turunan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, tetapi juga menciptakan sebuah proses pengasapan yang jauh lebih bersih, terkontrol, dan ramah lingkungan.
Peningkatan Signifikan dalam Efisiensi dan Produktivitas
Implementasi alat kondensasi ikan asap rendah emisi ini telah menunjukkan hasil yang luar biasa dalam hal peningkatan efisiensi dan produktivitas. Salah satu dampak paling nyata adalah pemangkasan waktu produksi. Jika sebelumnya proses pengasapan membutuhkan waktu hingga 10 jam per siklus, kini dengan teknologi baru ini, waktu produksi dapat dipersingkat menjadi hanya 7 jam.
Selain itu, konsumsi bahan bakar pun mengalami penurunan yang signifikan. Penggunaan bahan bakar kayu berhasil ditekan dari rata-rata 30 kilogram menjadi hanya 19,125 kilogram per siklus produksi. Sementara itu, kapasitas produksi justru melonjak tajam, dari sebelumnya hanya mampu mengolah 20 kilogram ikan per siklus, kini dapat mencapai 35 kilogram ikan.
Aspek krusial lainnya adalah stabilitas dan kontrol suhu pengasapan. Dengan alat ini, suhu pengasapan dapat dijaga secara stabil pada angka 60 derajat Celsius. Hal ini memastikan ikan matang secara merata, menghasilkan kualitas produk akhir yang jauh lebih baik dan konsisten.
Menekan Emisi dan Menghasilkan Produk Bernilai Tambah
Dampak positif dari inovasi ini tidak hanya terasa pada efisiensi operasional, tetapi juga pada pengurangan emisi. Emisi karbon yang dihasilkan dari proses pengasapan berhasil ditekan secara drastis, dari 2,72 ton CO₂e menjadi hanya 1,73 ton CO₂e per siklus produksi. Ini merupakan kontribusi nyata terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
Lebih dari sekadar mengurangi emisi, proses ini menghasilkan produk sampingan yang sangat berharga, yaitu asap cair. Asap cair ini dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk berbagai keperluan, misalnya sebagai bahan pengawet alami atau pemberi aroma pada produk makanan olahan lainnya. Hal ini menjadikan seluruh proses produksi menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Optimalisasi panas melalui sistem perangkap asap yang terintegrasi memastikan tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Sistem ini tidak hanya mempercepat proses pengasapan, tetapi juga berkontribusi menjaga kualitas udara di sekitar area produksi, menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.
"Inovasi ini adalah bukti nyata bagaimana kompetensi inti yang dimiliki kilang di bidang distilasi dan kondensasi dapat ditransformasikan menjadi solusi lingkungan yang memberikan nilai tambah substansial bagi masyarakat," ujar Siti Fauzia, Area Manager Communication, Relations & CSR RU III PT Kilang Pertamina Internasional. "Kami terus berupaya menghadirkan inovasi yang relevan dengan operasional kilang dan secara langsung berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan UMKM."
Ekosistem Ekonomi Terintegrasi dan Dampak Sosial yang Luas
Alat kondensasi ikan asap rendah emisi ini telah diserahkan kepada UMKM Jasmine Suger yang berlokasi di wilayah Sungai Gerong. UMKM ini mendapatkan pasokan bahan baku ikan segar dari kelompok pembudidaya ikan lokal, yang meliputi jenis ikan seperti patin, nila, dan gurame. Ikan-ikan tersebut kemudian diolah menggunakan teknologi bersih ini menjadi produk ikan asap ramah lingkungan yang siap dipasarkan. Produk ini dijual dengan kisaran harga Rp75.000 per kemasan, memberikan nilai tambah yang signifikan bagi para pelaku usaha.
Pola kerja sama ini berhasil menciptakan sebuah ekosistem ekonomi yang terintegrasi secara menyeluruh. Mulai dari kegiatan budidaya ikan yang berkelanjutan, proses pengolahan yang didukung oleh teknologi bersih, hingga pemasaran produk bernilai tambah, semuanya terhubung. Selain itu, inisiatif ini juga memperkuat ikatan sosial antara UMKM dan masyarakat sekitar, menciptakan sinergi yang positif.
Apresiasi terhadap inovasi ini datang dari berbagai pihak. Ir. Septi Fitri, M.M., yang saat diwawancarai pada 25 Agustus 2025 masih menjabat sebagai Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banyuasin, menyatakan kekagumannya.
“Saya sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Pertamina, khususnya melalui program CSR berupa pengembangan alat destilasi ikan asap ini. Inovasi ini merupakan sebuah terobosan baru dan patut menjadi yang pertama di Sumatera Selatan,” ujarnya. “Apabila inovasi ini dapat diimplementasikan secara optimal, saya yakin ini akan mampu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus pendapatan para pelaku usaha perikanan, khususnya di Kabupaten Banyuasin.”
Selama ini, proses pengasapan ikan masih banyak dilakukan secara konvensional menggunakan kayu bakar dan tungku tradisional. Metode ini terbukti kurang efisien, berdampak pada kualitas produk yang kurang optimal, serta menimbulkan masalah lingkungan akibat emisi yang tinggi.
“Melalui inovasi destilasi ikan asap ini, kami berharap dapat menghasilkan produk dengan kualitas yang jauh lebih baik, biaya produksi yang lebih efisien, dan proses yang lebih ramah lingkungan. Jika semua ini tercapai, maka inovasi ini akan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama para pelaku usaha perikanan dan generasi muda di Banyuasin,” tambah Ir. Septi Fitri.
Keberadaan teknologi ini juga membawa dampak sosial yang lebih luas. Masyarakat di sekitar lokasi produksi tidak lagi terganggu oleh polusi udara yang sebelumnya timbul dari proses pengasapan tradisional. Sementara itu, para pelaku UMKM merasakan peningkatan kenyamanan dalam bekerja, kapasitas produksi yang lebih besar, serta daya saing produk yang semakin meningkat di pasar.
Inovasi ini tidak hanya menjadi yang pertama di Sumatera Selatan, tetapi juga secara aktif berkontribusi dalam meningkatkan kapabilitas individu dan kelompok UMKM. Para pelaku usaha kini dibekali dengan pengetahuan dan sarana untuk menerapkan praktik produksi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.
Melalui inovasi yang didasarkan pada kompetensi inti perusahaan ini, Kilang Pertamina Plaju memperkuat komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Secara spesifik, inovasi ini selaras dengan Tujuan 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta Tujuan 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.
Lebih jauh lagi, program ini menjadi cerminan nyata penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam operasional Pertamina. Perusahaan menghadirkan solusi yang mampu menyeimbangkan antara kinerja bisnis yang menguntungkan, perlindungan terhadap lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasinya.