
Nvidia Investasi Rp 83,8 Triliun ke Intel, Kolaborasi Kembangkan Chip AI x86
Perusahaan semikonduktor terkemuka, Nvidia, secara resmi telah menyelesaikan pembelian saham Intel senilai 5 miliar dollar AS, yang setara dengan Rp 83,8 triliun berdasarkan kurs saat berita ditulis. Investasi besar ini dilakukan melalui skema private placement, yang berarti dana segar langsung mengalir ke kas Intel tanpa melalui pasar saham terbuka. Transaksi ini menandai langkah strategis kedua raksasa teknologi tersebut, yang fokus utamanya adalah pengembangan chip berarsitektur x86 untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI).
Kabar mengenai investasi Nvidia ke rivalnya, Intel, pertama kali mencuat pada pertengahan September 2025 dan kini telah rampung setelah tiga bulan proses negosiasi dan persetujuan regulasi. Dalam kesepakatan ini, Nvidia mengakuisisi 214,7 juta saham Intel dengan harga 23,28 dollar AS per saham. Alhasil, Nvidia kini memegang sekitar 4 persen saham Intel, menjadikannya salah satu pemegang saham perusahaan tersebut. Intel mengonfirmasi penyelesaian transaksi ini pada 26 Desember, setelah seluruh persyaratan regulasi disetujui pada awal bulan yang sama.
Kemitraan Strategis untuk Ekosistem AI
Kolaborasi antara Nvidia dan Intel ini dipandang sebagai "kemitraan bersejarah" oleh CEO Nvidia, Jensen Huang. Kedua perusahaan telah bekerja sama selama lebih dari setahun untuk mengembangkan arsitektur bersama yang mencakup CPU, server, dan PC. Tujuannya adalah untuk memperkuat infrastruktur pendukung kecerdasan buatan (AI).
Ke depannya, Intel dan Nvidia berencana merilis berbagai produk gabungan yang ditujukan untuk pusat data (data center) dan PC. Salah satu inovasi yang dinantikan adalah CPU x86 yang dirancang khusus oleh Nvidia untuk ekosistem AI. Selain itu, mereka juga akan mengembangkan chip PC yang menggabungkan inti CPU Intel dengan unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia RTX melalui pemanfaatan teknologi NVLink.
Arsitektur x86 merupakan tulang punggung komputasi modern, menjadi fondasi bagi sebagian besar komputer dan server yang beredar saat ini. Arsitektur ini pertama kali dikembangkan oleh Intel pada tahun 1978 dan diadopsi secara luas oleh prosesor PC dan laptop, termasuk oleh produsen seperti AMD. Keunggulan utama x86 adalah kompatibilitasnya yang luas, memungkinkan jutaan aplikasi dan sistem operasi seperti Windows dan Linux berjalan tanpa modifikasi. Ekosistem x86 yang stabil dan besar inilah yang membuatnya tetap mendominasi pasar PC, server, dan pusat data, terutama untuk aplikasi komputasi berat dan infrastruktur AI.
Manfaat Timbal Balik bagi Kedua Perusahaan
Bagi Intel, suntikan dana segar dari Nvidia dan kemitraan strategis ini memberikan dorongan signifikan dalam upaya pemulihan bisnisnya. Perusahaan yang berbasis di Santa Clara, California, ini telah menghadapi tekanan bisnis dan persaingan ketat di industri semikonduktor global selama beberapa tahun terakhir. Kehadiran Nvidia sebagai investor dan mitra pengembangan diharapkan dapat membangkitkan kembali kejayaan Intel, terutama di tengah ledakan tren AI.
Sementara itu, bagi Nvidia, investasi ini membuka akses strategis ke ekosistem x86 yang luas tanpa harus mengganggu basis perangkat lunak yang sudah mapan di kalangan pelanggan enterprise. Kemampuan untuk mengintegrasikan kekuatan GPU Nvidia dengan CPU Intel yang sudah ada di pasar memberikan peluang baru untuk inovasi dan perluasan jangkauan produk.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi apakah kolaborasi ini akan mencakup pemindahan produksi chip utama Nvidia dari pabrik Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) ke fasilitas manufaktur Intel. Namun, fokus utama kerja sama ini tampaknya lebih pada pengembangan produk dan penguatan ekosistem, bukan pada penggabungan lini manufaktur.
Intel Raih Dukungan Finansial Tambahan
Investasi Nvidia bukanlah satu-satunya suntikan dana yang diterima Intel pada tahun 2025. Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat telah melakukan pembelian saham Intel senilai hampir 9 miliar dollar AS (sekitar Rp 144 triliun) pada Agustus 2025, dengan mengakuisisi sekitar 10 persen saham perusahaan. Selain itu, perusahaan investasi asal Jepang, SoftBank, juga menginvestasikan dana sebesar 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 33 triliun) ke Intel pada bulan lalu.
Upaya pemulihan Intel dalam beberapa tahun terakhir memang terbilang berat. Perusahaan ini telah melakukan pergantian CEO beberapa kali dan mengubah strategi bisnisnya untuk beradaptasi dengan lanskap industri yang berubah cepat. Intel bahkan sempat kehilangan dominasinya di pasar PC, di mana posisinya mulai tergeser oleh Nvidia dan AMD, yang berdampak pada penurunan penjualan dan margin keuntungan. Dengan dukungan finansial dan kemitraan teknologi yang semakin kuat, Intel berupaya keras untuk kembali ke puncak persaingan semikonduktor global.