Saham-saham yang berfokus pada praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kinerja yang kurang memuaskan sepanjang tahun berjalan 2025, bahkan ketika indeks saham utama seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pertumbuhan yang signifikan. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai prospek investasi berkelanjutan di pasar modal Indonesia.

Kinerja Indeks ESG yang Lesu di Tengah Penguatan IHSG
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, Indeks ESG Leaders (IDXESGL), yang terdiri dari 30 emiten terpilih dengan penilaian ESG yang baik, hanya mampu membukukan penguatan sebesar 2,87% hingga akhir Desember 2025. Angka ini sangat kontras dengan IHSG yang melonjak 22,10% di periode yang sama, mencapai level 8.644,25.
Indeks IDXESGL dirancang untuk mengukur kinerja harga saham perusahaan yang tidak hanya memiliki skor ESG yang tinggi, tetapi juga bebas dari kontroversi signifikan, memiliki likuiditas transaksi yang baik, dan kinerja keuangan yang solid.
Tren serupa juga terlihat pada indeks saham hijau lainnya. Indeks SRI-KEHATI, yang dikelola bersama oleh Yayasan KEHATI dan BEI, hanya mencatat pertumbuhan 2,16%. Indeks ini memantau kinerja 25 perusahaan terbaik di Indonesia yang mengadopsi prinsip investasi berkelanjutan.
Bahkan, indeks IDX LQ45 Low Carbon Leaders, yang secara spesifik bertujuan untuk mengurangi intensitas emisi karbon portofolio hingga 50% dibandingkan dengan indeks LQ45 induknya, justru mengalami penurunan kinerja. Indeks ini tercatat turun 1,78% sepanjang tahun berjalan.
Faktor-faktor di Balik Kinerja Indeks ESG yang Tertekan
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menjelaskan bahwa lesunya kinerja indeks-indeks ramah lingkungan ini sebagian besar disebabkan oleh penurunan kinerja sejumlah saham konstituennya. Emiten-emiten berkapitalisasi pasar besar, seperti bank-bank jumbo yang masuk dalam indeks ESG, mengalami pelemahan harga saham yang cukup signifikan.
Contohnya, harga saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dilaporkan turun 17,05% secara year to date (ytd). PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) juga mengalami penurunan 10,96% ytd, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) turun 7,35% ytd.
Selain sektor perbankan, saham-saham dari sektor konsumer yang juga merupakan konstituen indeks ramah lingkungan turut melemah. Harga saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) melemah 12,01% ytd, dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) mengalami pelemahan yang lebih dalam, yaitu 27,03% ytd.
"Hal ini yang memengaruhi kinerja indeks ESG masih underperform," ujar Azis.
Lebih lanjut, Azis menambahkan bahwa daya beli masyarakat yang masih rendah menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja keuangan emiten bank jumbo dan sektor konsumer. Perlambatan kinerja keuangan di sektor-sektor ini secara langsung berdampak pada kinerja indeks yang menaunginya.
Prospek Jangka Panjang Investasi ESG
Meskipun menghadapi tantangan dalam jangka pendek, prospek investasi saham-saham ramah lingkungan di masa depan dinilai tetap kuat. Azis memperkirakan adanya potensi penguatan yang didorong oleh permintaan dari investor asing. Generasi milenial dan Gen Z juga menunjukkan minat yang semakin besar terhadap instrumen investasi berkelanjutan.
Saham-saham konstituen indeks ESG dipandang lebih menarik karena mencerminkan tata kelola perusahaan yang baik dan risiko yang lebih rendah. Meskipun pergerakan harga saham pada akhirnya tetap bergantung pada fundamental perusahaan, aspek ESG memberikan nilai tambah yang signifikan.
Namun, investasi pada saham-saham ramah lingkungan masih menghadapi beberapa tantangan. Kesadaran investor ritel terhadap konsep ESG di Indonesia masih tergolong rendah. Selain itu, jumlah produk reksa dana ESG di pasar masih terbatas, dan perbedaan metodologi dalam penilaian ESG menyebabkan standar peringkat belum sepenuhnya seragam.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusti, menambahkan bahwa faktor geopolitik global juga sempat memicu permintaan terhadap saham-saham yang berkaitan dengan komoditas.
"Akan tetapi, ya di sisi lain sebenarnya tren investasi ESG memiliki potensi yang prospektif," kata Nafan.
Menurutnya, saham-saham ramah lingkungan memiliki potensi untuk diminati oleh pasar, terutama oleh investor yang memiliki orientasi investasi jangka panjang. Investor yang mengutamakan keberlanjutan dan dampak positif dari investasinya cenderung akan melihat saham-saham ESG sebagai pilihan yang menarik.
Ke depan, diharapkan adanya pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter yang dapat menjadi katalis positif. Hal ini diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat dan memberikan efek domino yang baik bagi sektor-sektor yang saat ini terdampak perlambatan ekonomi. Dengan membaiknya daya beli, kinerja emiten, termasuk yang masuk dalam indeks ESG, diharapkan dapat ikut terangkat.
Secara keseluruhan, meskipun kinerja indeks ESG di BEI pada tahun 2025 menunjukkan tren yang lesu, faktor-faktor fundamental dan tren global menunjukkan bahwa investasi berkelanjutan memiliki prospek yang cerah di masa mendatang. Upaya peningkatan kesadaran investor, pengembangan produk investasi ESG, dan standarisasi metodologi penilaian akan menjadi kunci untuk membuka potensi penuh dari pasar investasi ramah lingkungan di Indonesia.