Teror Bom di Sekolah Jakarta 2025: Luka Mendalam di Dunia Pendidikan
Tahun 2025 akan terukir sebagai babak kelam dalam sejarah pendidikan di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Serangkaian serangan bom, mulai dari ancaman siber hingga ledakan fisik yang melukai puluhan siswa, telah mengguncang ketenangan institusi pendidikan. Dunia pendidikan mendadak dipaksa siaga satu, menghadapi gelombang ancaman yang datang beruntun dalam rentang waktu yang berdekatan.
Gelombang Teror Dimulai: Ancaman Siber dan Permintaan Tebusan Kripto
Periode mencekam ini diawali pada awal Oktober 2025. Dua sekolah internasional ternama di Tangerang, yaitu Jakarta Nanyang School dan Mentari Intercultural School, menjadi sasaran pertama. Pada tanggal 7 Oktober, kedua institusi tersebut menerima pesan ancaman bom yang menimbulkan kepanikan.
Tak berselang lama, pada hari berikutnya, North Jakarta Intercultural School (NJIS) di kawasan Kelapa Gading ikut menjadi target. Pelaku mengirimkan pesan melalui aplikasi WhatsApp, menuntut sejumlah uang tebusan yang fantastis, yakni US$30 ribu, yang harus dibayarkan dalam bentuk mata uang kripto. Menanggapi laporan tersebut, pihak Kepolisian Sektor Kelapa Gading bergerak cepat. Tim penjinak bom dikerahkan untuk melakukan penyisiran di area sekolah pada tengah malam guna memastikan tidak ada ancaman nyata yang tersembunyi. Dugaan awal pihak berwenang mengarah pada satu pelaku yang sama untuk ketiga sekolah internasional ini, dan aksinya diduga dioperasikan dari luar negeri.
Puncak Tragedi: Ledakan di SMAN 72 Jakarta Saat Salat Jumat
Titik puncak dari rangkaian teror ini terjadi pada tanggal 7 November 2025, mengguncang SMAN 72 Jakarta. Sebuah ledakan dahsyat terdengar di tengah aktivitas sekolah, tepatnya saat khotbah kedua salat Jumat berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB.
Insiden mengerikan ini sontak memicu kepanikan luar biasa. Sebanyak 96 orang dilaporkan menjadi korban luka-luka, dengan mayoritas korban adalah para siswa. Bahkan, seminggu setelah kejadian, tercatat masih ada 10 korban yang menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Tim Gegana Brimob dan Densus 88 yang segera diturunkan ke lokasi kejadian berhasil mengungkap fakta yang mengejutkan. Ditemukan tujuh perangkat peledak di area sekolah, empat di antaranya berhasil meledak di dua titik berbeda. Penyelidikan lebih lanjut mengidentifikasi pelaku sebagai seorang siswa kelas 12 berinisial F, yang saat itu berusia 17 tahun. Rekaman kamera pengawas (CCTV) menunjukkan F telah memasuki area sekolah sejak pagi hari dengan membawa dua tas. Ia sempat terlihat berinteraksi secara normal dengan beberapa guru sebelum akhirnya melancarkan aksinya.

Sekitar pukul 12.02 WIB, rekaman CCTV kembali menangkap sosok F yang telah mengganti pakaiannya. Ia terlihat mengenakan celana panjang berwarna hitam dan kaus putih. Di tangannya, ia membawa sebuah senjata mainan yang diarahkan ke arah masjid. Tak lama kemudian, ledakan terjadi di area sekitar masjid.
Profil Pelaku: Luka Batin dan Inspirasi Gelap
Analisis mendalam terhadap pelaku F mengungkap sisi kelam dari pribadinya. Ia dikenal sebagai individu yang pendiam dan cenderung menyendiri. Di lokasi kejadian, petugas menemukan senjata mainan yang ditulis dengan nama-nama pelaku terorisme internasional terkenal, seperti Brenton Tarrant dan Alexandre Bissonnette.
Saat melakukan aksinya, F mengenakan kaus putih dengan tulisan "Natural Selection", sebuah frasa yang identik dengan pelaku penembakan massal di SMA Columbine, Amerika Serikat. Selain itu, polisi juga menemukan sebuah buku catatan yang berisi dokumentasi mengenai perasaan kesepian dan kemarahan yang dialami F sejak ia memasuki jenjang SMA.
Meskipun demikian, Polda Metro Jaya menegaskan bahwa F bertindak sebagai pelaku tunggal atau "lone wolf", tanpa adanya keterkaitan dengan jaringan teroris tertentu. Dugaan kuat yang mengemuka adalah pelaku nekat melakukan aksi tersebut akibat perundungan (bullying) yang dialaminya selama berada di lingkungan sekolah.
Dampak Luas: Trauma dan Perubahan Sistem Pendidikan
Ledakan di SMAN 72 Jakarta tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga dampak psikologis yang mendalam. Akibat insiden tersebut, sistem pembelajaran di sekolah terpaksa dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring untuk sementara waktu.

Lebih dari sekadar kerusakan fisik pada bangunan, peristiwa ini juga menghancurkan ketenangan batin para siswa. Sejumlah siswa dilaporkan mengalami trauma mendalam hingga meminta untuk dipindahkan ke sekolah lain. Menanggapi kondisi ini, puluhan psikolog diterjunkan untuk memberikan pendampingan psikososial, termasuk layanan PFA (Psychological First Aid) dan Trauma Healing, kepada siswa, guru, serta orang tua. Tujuannya adalah untuk membantu mereka mengatasi trauma, mengurangi kecemasan, dan memulihkan rasa aman di lingkungan sekolah.
Polemik Pengaruh Game: Pemerintah Pertimbangkan Pembatasan
Tragedi ini juga memicu perdebatan publik yang hangat mengenai pengaruh permainan video (video games) terhadap perilaku kekerasan. Pemerintah, melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menyatakan bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memberlakukan pembatasan terhadap game-game yang bertema senjata, seperti PUBG.
Namun, banyak pihak yang menyuarakan agar pemerintah tidak serta merta menyalahkan industri game. Argumen yang disampaikan adalah bahwa kekerasan merupakan fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari aspek sosial maupun psikologis individu.
Hingga kini, proses hukum terhadap pelaku F masih terus berjalan. Mengingat usianya yang masih di bawah umur, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut dilibatkan dalam proses peradilan. Tragedi di SMAN 72 Jakarta ini menjadi pengingat yang sangat keras bagi seluruh elemen masyarakat mengenai krusialnya menjaga kesehatan mental, serta pentingnya pengawasan dan intervensi dini terhadap lingkungan sekolah untuk mencegah insiden serupa terulang di masa depan.