
Perubahan Nama Kota Sungai Penuh Menjadi Kota Kerinci: Membangun Identitas yang Lebih Kuat
Wacana perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci kembali mengemuka dan memicu diskusi publik yang cukup luas. Isu ini tidak hanya berkaitan dengan pergantian nomenklatur administratif, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih dalam, seperti identitas wilayah, arah pembangunan jangka panjang, serta posisi kawasan Kerinci dalam peta ekonomi, sosial, budaya, dan pariwisata nasional.
Di tengah dinamika pembangunan daerah yang semakin kompetitif, nama sebuah wilayah memiliki makna strategis. Ia menjadi representasi identitas kolektif sekaligus pintu masuk bagi persepsi publik, investor, dan wisatawan. Karena itu, gagasan perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci dinilai perlu dikaji secara serius dan komprehensif, bukan ditanggapi secara emosional atau parsial.
Penting untuk ditegaskan bahwa wacana ini tidak dimaksudkan untuk menghapus identitas Sungai Penuh. Sungai Penuh tetap diposisikan sebagai ibu kota dan pusat pemerintahan, sekaligus jantung aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Perubahan nama justru diarahkan untuk memperkuat posisi Sungai Penuh dalam kerangka identitas kawasan Kerinci yang lebih luas dan terintegrasi.
Tokoh masyarakat Kerinci sekaligus Wakil Rektor Universitas Bung Hatta, Dr. Zulherman, S.T., M.Sc., menilai perubahan nama wilayah harus dipahami sebagai strategi identitas jangka panjang. Menurutnya, perubahan tersebut bukanlah bentuk penghapusan sejarah, melainkan penegasan posisi wilayah dalam konteks pembangunan modern.
“Perubahan nama wilayah harus dipahami sebagai strategi identitas jangka panjang. Perubahan tersebut bukan penghapusan sejarah, melainkan penegasan posisi wilayah dalam konteks pembangunan modern,” ujar Dr. Zulherman, Minggu, 22 Februari 2026.
Ia menegaskan bahwa nama Kerinci memiliki nilai historis, kultural, dan ekonomi yang telah dikenal secara nasional. Selama ini, Kerinci identik dengan kekayaan alam, budaya, serta potensi pariwisata yang kuat. Dengan menggunakan identitas Kerinci sebagai nama kota, menurutnya, narasi pembangunan kawasan akan menjadi lebih utuh dan mudah dipahami oleh publik luas.
“Ketika pusat pemerintahan dan aktivitas kawasan menggunakan identitas Kerinci, maka nilai ekonomi, sosial, dan pariwisata akan bergerak dalam satu narasi yang utuh dan lebih mudah dipahami publik,” lanjutnya.
Dampak Ekonomi dari Penguatan Identitas Kerinci
Dari sisi ekonomi, penguatan identitas Kerinci dinilai dapat meningkatkan daya saing wilayah. Nama yang sudah dikenal luas secara nasional bahkan internasional akan mempermudah promosi produk lokal, memperkuat branding daerah, serta meningkatkan kepercayaan investor. Dalam konteks ini, Sungai Penuh sebagai ibu kota berperan sebagai etalase utama aktivitas ekonomi dan layanan kawasan Kerinci.
Dampak Sosial dan Budaya
Secara sosial dan budaya, masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci hidup dalam satu ekosistem yang serumpun dan memiliki keterikatan historis yang kuat. Penyesuaian identitas wilayah dinilai berpotensi memperkuat rasa memiliki dan kohesi sosial, selama dilakukan secara inklusif dan tetap menempatkan Sungai Penuh sebagai pusat pemerintahan dan kehidupan masyarakat.
Dampak pada Sektor Pariwisata
Sektor pariwisata juga menjadi salah satu pertimbangan utama dalam wacana ini. Identitas Kota Kerinci dengan Sungai Penuh sebagai ibu kota dinilai akan memperjelas posisi kawasan sebagai gerbang utama destinasi Kerinci. Kejelasan identitas ini diyakini mampu mempermudah strategi promosi, meningkatkan daya saing pariwisata, serta menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pentingnya Partisipasi dalam Proses Perubahan
Namun demikian, para pemangku kepentingan menekankan bahwa wacana perubahan nama ini harus dibahas secara terbuka, objektif, dan partisipatif. Keterlibatan masyarakat, akademisi, tokoh adat, serta pemerintah daerah menjadi kunci agar kebijakan yang diambil benar-benar mencerminkan kepentingan bersama dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah publik.
Kesimpulan
Pada akhirnya, perubahan nama Kota Sungai Penuh menjadi Kota Kerinci harus dipandang sebagai langkah strategis jangka panjang, bukan sekadar perubahan administratif. Dengan Sungai Penuh tetap sebagai ibu kota, perubahan ini diharapkan mampu memperkuat integrasi wilayah, meningkatkan daya saing daerah, serta menghadirkan pembangunan yang lebih berakar pada identitas lokal Kerinci.