Pemprov Lampung gelar OMC khusus urai debu GAK, kepala BPBD: Bahan semai yang digunakan berbeda

Pemprov Lampung gelar OMC khusus urai debu GAK, kepala BPBD: Bahan semai yang digunakan berbeda
Ringkasan Berita:
Pemprov Lampung melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memitigasi dampak sebaran abu vulkanik.
OMC sudah dilakukan dua kali, yakni Selasa (8/9/2026) dan Rabu (9/9/2026).
OMC kali ini memiliki tujuan khusus, yakni membantu mengurai konsentrasi debu dan abu vulkanik di sejumlah wilayah terdampak.
Bahan yang digunakan pun berbeda dengan OMC sebelumnya.

UMKM News, Bandar Lampung -Pemprov Lampung melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna memitigasi dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. OMC sudah dilakukan sebanyak dua kali, yakni Selasa (8/9/2026) dan kembali dilanjutkan pada Rabu (9/9/2026).

Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) membuat udara sejumlah wilayah di Lampung, khususnya Bandar Lampung, tercemar abu vulkanik. Dampaknya, tidak sedikit warga yang mengalami gangguan kesehatan, mulai dari sakit mata, batuk, hingga infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Seluruh sekolah dan kampus di Bandar Lampung terpaksa memberlakukan pembelajaran daring sejak Senin (7/9) hingga Selasa (8/9), yang selanjutnya diperpanjang sampai Kamis (10/9). Kebijakan itu bisa diperpanjang kembali jika kondisi udara belum aman.

Sebagai bentuk mitigasi, Pemprov Lampung langsung melakukan OMC. Kepala Pelaksana BPBD Lampung Aswarodi mengatakan, OMC yang dilakukan kali ini memiliki tujuan khusus, yakni membantu mengurai konsentrasi debu dan abu vulkanik di sejumlah wilayah terdampak.

Menurut Aswarodi, pelaksanaan OMC kali ini bukan sekadar untuk meningkatkan potensi curah hujan. Bahan yang digunakan pun berbeda dengan OMC sebelumnya.

“Bahan semai yang digunakan berupa surfaktan dan air yang bertujuan untuk meminimalisir partikel polusi atau abu vulkanik. Jadi, kami perlu tegaskan bahwa operasi ini bukan untuk menurunkan hujan, melainkan sebagai upaya untuk mengurai debu dan abu vulkanik,” kata Aswarodi dalam konferensi pers terkait perkembangan terkini GAK di Command Center BPBD Provinsi Lampung, Rabu sore.

Hadir pula dalam konferensi pers tersebut, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Danlanal Lampung, akademisi, Basarnas, BMKG, BPBD, Diskominfotik, Diskes, hingga Dishub Lampung.

Aswarodi menjelaskan, pesawat OMC kembali diterbangkan pada Rabu sekitar pukul 11.00 WIB dengan sasaran wilayah Lampung bagian selatan. Namun, jalur dan area penerbangan tidak dapat ditentukan secara sembarangan.

Tim harus mempertimbangkan kondisi aktual sebaran abu vulkanik sekaligus faktor keselamatan penerbangan. “Tujuan penerbangan ini adalah mencari area yang memiliki potensi sebaran debu dan abu vulkanik cukup banyak. Namun, apabila konsentrasi abu terlalu tinggi, area tersebut juga harus dihindari karena dapat membahayakan mesin pesawat,” jelasnya.

Aswarodi mengatakan, hingga Rabu, OMC untuk membantu mengurai sebaran abu vulkanik telah dilakukan sebanyak dua kali penerbangan. Penerbangan pertama dilakukan pada Selasa dan kembali dilaksanakan pada Rabu.

Menurut Aswarodi, wilayah prioritas pelaksanaan OMC terus disesuaikan dengan perkembangan sebaran abu vulkanik. Tim akan mencari titik-titik dengan konsentrasi abu yang cukup tinggi, tetapi tetap berada dalam batas aman untuk dilalui pesawat.

Selain memantau sebaran abu vulkanik, faktor keselamatan awak dan pesawat menjadi pertimbangan utama dalam setiap penerbangan. “Area prioritas disesuaikan dengan kondisi sebaran abu dan faktor keselamatan penerbangan. Karena ada beberapa wilayah dengan konsentrasi abu vulkanik yang berpotensi membahayakan mesin pesawat, sehingga harus dihindari,” tegasnya.

Pemprov Lampung bersama BPBD, BNPB dan instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau beserta dampaknya terhadap wilayah Lampung. Pelaksanaan OMC menjadi salah satu langkah mitigasi yang dilakukan pemerintah untuk meminimalisasi dampak sebaran abu vulkanik.

BPBD Lampung juga mengimbau masyarakat tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah serta instansi berwenang terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Pakai Helikopter

Dalam kesempatan itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan baru saja melakukan pemantauan langsung menggunakan helikopter di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Rabu (9/9). Tim melakukan pengamatan dari jarak sekitar 1,2 mil laut untuk melihat kondisi terkini GAK.

Mirza mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan visual, GAK masih mengalami erupsi dan statusnya tetap berada pada Level III atau Siaga. Namun, aktivitas erupsi secara visual mulai menunjukkan penurunan.

"Secara visual, aktivitasnya mulai menurun dibanding tiga hari sebelumnya. Frekuensi dan intensitas keluarnya abu vulkanik juga sudah sangat berkurang, intervalnya semakin lebar," kata Mirza saat menghadiri konferensi pers terkait perkembangan terkini GAK di Command Center BPBD Provinsi Lampung, Rabu sore.

Gubernur mengatakan, embusan abu yang terlihat dari Gunung Anak Krakatau juga jauh lebih sedikit. Kolom yang terlihat lebih didominasi uap berwarna putih, sementara abu vulkanik yang keluar relatif tipis.

Menurut Mirza, arah angin pada Rabu siang bergerak menuju barat laut sehingga membawa abu tipis dari kawasan Gunung Anak Krakatau ke wilayah sekitarnya. Meski aktivitas menurun, ia menegaskan kondisi tersebut bukan berarti erupsi telah berakhir.

"Menurunnya aktivitas bukan berarti erupsi sudah berakhir. Kita juga belum dapat memastikan kapan erupsi ini berakhir atau berhenti," ujarnya.

Mirza menjelaskan, aktivitas GAK sangat dipengaruhi oleh dinamika gunung yang berada di bawah laut. Berdasarkan pengamatan visual, tubuh GAK juga terlihat mengalami pertumbuhan melebar secara horisontal. Namun, pertumbuhan tersebut tidak terlihat signifikan secara vertikal atau bertambah tinggi. "Untuk memastikan perkembangannya, tentu tetap diperlukan data teknis dari instansi yang berwenang," katanya.

Mirza meminta masyarakat tetap tenang namun tidak lengah terhadap perkembangan aktivitas GAK. Ia mengimbau masyarakat tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, tidak mendekati area erupsi, serta mengikuti informasi dan arahan resmi dari instansi berwenang.

Sementara itu, kualitas udara dan partikel debu di sejumlah wilayah kabupaten/kota di Lampung disebut mulai berangsur membaik. "Kualitas udara, partikel debu di keseluruhan kabupaten berangsur mulai membaik dan aman untuk beraktivitas," ujar Mirza.

Pemprov Lampung bersama instansi terkait, kata dia, akan terus melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan keselamatan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Lampung juga menjawab pertanyaan awak media mengenai pemanfaatan Satelit SS-1 yang sebelumnya diluncurkan untuk mendukung pemantauan berbagai kondisi di Provinsi Lampung, termasuk kebencanaan. Gubernur mengatakan, satelit tersebut belum dapat langsung digunakan untuk memantau bencana karena masih menjalani proses commissioning.

Menurutnya, proses commissioning membutuhkan waktu sekitar dua bulan sebelum satelit dapat digunakan secara optimal. "Yang namanya satelit, meluncur itu dia ada commissioning dulu. Waktunya dua bulan," kata Mirza.

Ia mengatakan, setelah proses commissioning selesai, Pemprov Lampung akan memanfaatkan satelit tersebut untuk mendukung kebutuhan pemantauan di wilayah Lampung. Dengan demikian, Satelit SS-1 belum dapat digunakan untuk memantau secara langsung erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi saat ini.

Kerahkan KRI Lepu

Danlanal Lampung Letkol Laut (P) Irianto Kurniawan mengatakan, pihaknya turut memperkuat pemantauan dengan meninjau langsung GAK. TNI AL mengerahkan KRI Lepu-861 yang berada di bawah jajaran Guspurla Koarmada I untuk melaksanakan operasi.

Irianto mengatakan, KRI Lepu sebenarnya telah berada di wilayah perairan Lampung selama beberapa hari terakhir. Bahkan, sehari sebelum pemantauan bersama Pemprov Lampung, KRI tersebut telah melakukan pengamatan visual dari jarak dekat terhadap GAK.

"Hasil pemantauan ini cukup aman, sehingga dari instruksi dan arahan pimpinan diizinkan untuk melaksanakan pemantauan ulang dengan mengundang pemerintah daerah sekaligus instansi samping," kata Irianto.

Pada Rabu, rombongan berangkat dari Pelabuhan Panjang sekitar pukul 08.00 WIB. Selain unsur TNI AL, kegiatan tersebut melibatkan Pemprov Lampung, BPBD, Basarnas dan Itera.

Irianto mengatakan, hasil pengamatan menjadi salah satu pedoman untuk meningkatkan keamanan dan kewaspadaan pengguna laut. Ia mengingatkan seluruh pengguna laut agar mematuhi batas jarak aman yang ditetapkan serta mengikuti imbauan instansi berwenang.

"Patuhilah batas jarak aman, patuhi imbauan pemakaian masker, patuhi penggunaan alat keselamatan diri. Ini penting untuk keamanan dan keselamatan bersama," ujarnya.

Erupsi 7 Kali

Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas erupsi sejak Selasa hingga Rabu. Berdasarkan laporan Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno, tercatat tujuh kali erupsi dalam rentang waktu tersebut.

Erupsi terbaru terjadi pada Rabu pukul 00.47 WIB. "Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada hari Rabu, 9 September 2026, pukul 00:47 WIB. Visual letusan tidak teramati," kata Suwarno, Rabu.

Sehari sebelumnya, sepanjang Selasa, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami enam kali erupsi. Erupsi pertama pada Selasa terjadi pukul 05.08 WIB, dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 15 detik.

Selang 26 menit kemudian, erupsi kembali terjadi pada pukul 05.34 WIB. Erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum 44 mm dan durasi 10 detik.

Aktivitas kembali tercatat pada pukul 07.49 WIB, dengan amplitudo maksimum 48 mm dan durasi 19 detik. Kemudian pada pukul 11.34 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 17 detik.

Erupsi berikutnya terjadi pada pukul 17.56 WIB, dengan amplitudo maksimum 54 mm dan durasi 31 detik. Dari seluruhnya, erupsi dengan amplitudo dan durasi paling besar adalah pada pukul 17.56 WIB, mencapai 54 mm selama 31 detik.

Namun, seluruh erupsi yang dilaporkan tersebut tidak teramati secara visual dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau.

Dengan masih tingginya aktivitas vulkanik, status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau diminta tetap meningkatkan kewaspadaan. Mereka juga diimbau tidak mendekati kawasan gunung api maupun melakukan aktivitas di dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi.

Kondisi Udara

Di sisi lain, Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung menemukan sejumlah wilayah yang mengalami peningkatan konsentrasi partikulat udara atau tercemar akibat paparan debu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK). Hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan pada 6-7 September 2026 menunjukkan masih terdapat sejumlah titik dengan kadar particulate matter (PM) yang melampaui baku mutu udara ambien sebagaimana diatur dalam PP Nomor 22 Tahun 2021.

Kadiskes Bandar Lampung Muhtadi Arsyad Temenggung mengatakan, baku mutu udara ambien yang menjadi acuan untuk PM2.5 adalah 55 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM10 sebesar 75 mikrogram per meter kubik.

"Untuk PM2.5, hampir di seluruh lokasi masih memenuhi syarat. Namun, ada beberapa titik yang mengalami lonjakan cukup tinggi," kata Muhtadi, Rabu.

Salah satu wilayah yang menunjukkan kondisi paling mencolok yakni Gedong Air. Di sejumlah titik, konsentrasi PM2.5 tercatat sangat tinggi, yakni berkisar 213 hingga 269 mikrogram per meter kubik.

Pengukuran tersebut dilakukan antara lain di depan Puskesmas Gedong Air, Pertigaan Sisingamangaraja, Pertigaan Sam Ratulangi, Pertigaan Tamin, depan Masjid Jami Nurul Khoir hingga Tugu Duren.

Namun, kondisi berbeda terlihat pada parameter PM10 di kawasan tersebut. Kadar PM10 justru tercatat relatif rendah dan masih memenuhi syarat, yakni sekitar 11-13 mikrogram per meter kubik.

Sebaliknya, kawasan Pasar Ambon menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi PM10 paling tinggi. Dari hasil pengukuran, seluruh titik di kawasan tersebut tercatat tidak memenuhi syarat. Konsentrasi PM10 tertinggi mencapai 701 mikrogram per meter kubik di Kelurahan Teluk Betung.

Sementara itu, kadar PM10 di Kelurahan Pesawahan mencapai 692 mikrogram per meter kubik, Puskesmas Pasar Ambon 552 mikrogram per meter kubik, Kelurahan Sumur Putri 543 mikrogram per meter kubik, Kelurahan Gedung Pakuan 528 mikrogram per meter kubik, dan Kelurahan Talang 493 mikrogram per meter kubik.

Muhtadi menjelaskan, meski kadar PM10 di sejumlah lokasi sangat tinggi, konsentrasi PM2.5 di kawasan Pasar Ambon masih berada dalam kategori memenuhi syarat.

Muhtadi mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap paparan debu vulkanik, terutama warga yang berada di wilayah dengan konsentrasi partikulat tinggi. Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk serta menggunakan masker untuk mengurangi risiko menghirup partikel debu.

ISPA Meningkat

Diskes Bandar Lampung mencatat kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa hari pascaerupsi Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan, jumlah kasus ISPA menunjukkan peningkatan pada periode 4-7 September 2026.

Rinciannya, pada 4 September tercatat 527 kasus ISPA dari total 3.380 kunjungan puskesmas, 632 kasus pada 5 September dari 3.898 kunjungan, dan 716 kasus pada 7 September dari 4.305 kunjungan.

Artinya, terdapat penambahan 84 kasus atau sekitar 13,3 persen pada 5-7 September. Pada periode yang sama, jumlah seluruh kunjungan puskesmas juga meningkat sekitar 10,4 persen.

Diskes mencatat kenaikan ISPA terjadi di sejumlah kecamatan. Peningkatan paling tinggi terjadi di Telukbetung Timur, yakni dari tujuh kasus menjadi 36 kasus.

Selanjutnya, Kecamatan Kedamaian mengalami kenaikan dari 11 menjadi 36 kasus, Rajabasa dari 21 menjadi 43 kasus, Telukbetung Selatan dari 16 menjadi 36 kasus, Sukarame dari 49 menjadi 66 kasus, serta Tanjungkarang Pusat dari 15 menjadi 27 kasus.

Muhtadi menegaskan, data dalam rentang tiga hari tersebut masih membutuhkan kajian dan pemantauan lebih lanjut. "Kita belum bisa menyimpulkan bahwa peningkatan ISPA ini disebabkan langsung oleh erupsi. Datanya masih terus kita validasi dan pantau," ujarnya.

Menurut dia, Diskes mengoptimalkan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) untuk mendeteksi kemungkinan adanya lonjakan kasus penyakit yang berada di atas kondisi normal. Selain ISPA, petugas juga memantau sejumlah penyakit yang berpotensi muncul akibat paparan partikulat vulkanik, seperti pneumonia, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), iritasi mata atau konjungtivitis, serta iritasi kulit atau dermatitis.

Paparan abu vulkanik juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat di Tanggamus. Hingga Selasa (8/9) pukul 17.00 WIB, Diskes Tanggamus mencatat 467 pasien mengalami batuk atau ISPA.

Selain keluhan pernapasan, sebanyak 117 pasien mengalami iritasi mata dan 67 pasien mengalami iritasi kulit. Secara keseluruhan, terdapat 1.196 pasien yang mendapatkan pelayanan rawat jalan.

Kadiskes Tanggamus Herry Novrizal mengatakan, pemantauan terhadap dampak abu vulkanik masih terus dilakukan di wilayah terdampak. “Pemantauan aktif dilanjutkan, terutama kelompok rentan, dengan memastikan pelayanan dan logistik kesehatan tetap siap,” kata Herry, Rabu.

Dalam laporan tersebut, paparan abu vulkanik tercatat berdampak pada tiga kelurahan dan 299 pekon dengan jumlah penduduk sekitar 678.021 jiwa. Dari ratusan pasien yang mengalami keluhan kesehatan, tiga orang masih menjalani perawatan di puskesmas. Rinciannya, dua pasien dirawat di Puskesmas Sanggi dan satu pasien di Puskesmas Gunung Sari.

Untuk menangani dampak kesehatan tersebut, Diskes mengaktifkan 26 puskesmas, 176 posko, serta melibatkan 270 tenaga kesehatan di lapangan. Diskes juga telah mendistribusikan 75.503 masker kepada masyarakat. Saat ini, masih tersedia 10.300 masker di Diskes dan 106.500 masker di 26 puskesmas.

Herry mengatakan, paparan abu vulkanik yang berlanjut berpotensi meningkatkan keluhan pernapasan dan iritasi mata. Karena itu, ia mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.

(UMKM News/dominius desmantri/riyo pratama/oky indrajaya)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama