
Peningkatan Kekuatan Udara AS dalam Konflik dengan Iran
Penggunaan pesawat pembom strategis oleh Amerika Serikat (AS) semakin meningkat dalam konteks konflik yang sedang berlangsung antara AS dan Iran. Pesawat-pesawat tersebut kini dikerahkan dari berbagai pangkalan militer di luar negeri, termasuk di Inggris, untuk mendukung operasi serangan terhadap Iran.
Pesawat Pembom B-1 Lancer Dikerahkan dari Inggris
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kekuatan udara, pesawat pembom strategis B-1 Lancer lepas landas dari pangkalan Fairford di Inggris menuju Timur Tengah. Ini merupakan pertama kalinya pesawat ini melakukan penerbangan jauh ke dalam wilayah Iran. B-1 Lancer memiliki kemampuan untuk membawa hingga 34 ton persenjataan, termasuk bom penembus lapis baja yang sangat efektif.
Perjalanan dari Inggris lebih pendek dibandingkan jalur dari AS, sehingga mempercepat proses operasi dan meningkatkan efisiensi serangan. Hal ini menunjukkan bahwa AS sedang mempersiapkan intensifikasi operasi pengeboman dalam waktu dekat.
Pesawat Pembom B-52 Milik AS Tiba di Inggris
Selain B-1 Lancer, tiga pesawat pembom B-52 juga dilaporkan mendarat di Inggris. Pesawat-pesawat ini tiba di pangkalan Royal Air Force (RAF) Fairford di Gloucestershire, Inggris Barat Daya. B-52 mampu meluncurkan rudal dengan jangkauan lebih dari 1.500 mil, menjadikannya senjata yang sangat efektif dalam operasi jarak jauh.
Kedatangan B-52 ini menambah armada pesawat militer AS yang sudah ada di pangkalan tersebut. Sebelumnya, satu pesawat B-1 Lancer tiba pada Jumat malam, disusul dua pesawat lainnya pada Sabtu.
Peran Inggris dalam Operasi Militer AS
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memberikan izin kepada AS untuk menggunakan pangkalan militer di Inggris, termasuk RAF Fairford dan Diego Garcia di Samudra Hindia. Meskipun sebelumnya menolak penggunaan pangkalan tersebut untuk serangan gabungan dengan Israel terhadap Iran, Starmer akhirnya mengabulkan permintaan AS demi "pertahanan diri kolektif" sekutu.
Keputusan ini sempat memicu perselisihan dengan Presiden AS Donald Trump, tetapi Starmer menyatakan bahwa kebijakan ini diambil untuk melindungi nyawa warga Inggris.
Konteks Perang AS-Israel vs Iran
Serangan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, dengan penembakan sejumlah rudal ke berbagai wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini terjadi beberapa hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran di Jenewa, Swiss, yang berakhir tanpa kesepakatan.
AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir melalui program nuklirnya, sementara Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai seperti pengembangan energi dan penelitian ilmiah.
Ketegangan yang Berkepanjangan
Ketegangan antara AS dan Iran telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan perjanjian nuklir tahun 2015 tidak berjalan dengan baik. Pada 22 Juni 2025, AS menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran untuk mendukung serangan Israel terhadap negara tersebut yang berlangsung selama 12 hari. Serangan itu semakin memperburuk hubungan antara AS dan Iran.
Washington kemudian mendesak Teheran kembali ke meja perundingan nuklir, bahkan mengancam dengan "opsi militer" jika Iran tidak memenuhi tuntutan AS. Selama beberapa bulan terakhir, kedua pihak sempat sepakat melanjutkan dialog melalui perundingan dengan Oman sebagai mediator.
Oman menyatakan pembicaraan di Jenewa menunjukkan kemajuan signifikan, meskipun masih ada sejumlah isu penting yang belum mencapai kesepakatan. Perbedaan pandangan yang besar membuat kedua pihak belum berhasil mencapai perjanjian final.
Reaksi Iran terhadap Serangan AS-Israel
Menanggapi serangan tersebut, Iran menarik diri dari proses perundingan selama serangan militer AS dan Israel terhadap negaranya masih berlangsung. Iran membalas serangan AS-Israel dengan menargetkan pangkalan militer mereka dan fasilitasnya di berbagai wilayah di Timur Tengah, serta memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran energi global di Timur Tengah.