Kritik Tajam dari Emmanuel Petit terhadap Kylian Mbappe di Real Madrid
Sebuah kritik tajam dilontarkan oleh Emmanuel Petit, legenda Prancis yang kini aktif sebagai komentator. Ia menunjuk satu nama setelah Real Madrid tersingkir dari Liga Champions: Kylian Mbappe. Menurutnya, kehadiran pemain muda tersebut justru membawa dampak negatif di dalam tim.
Petit menyebut bahwa suasana ruang ganti Real Madrid berubah, dan bukan ke arah yang lebih baik. Ia mengkritik performa tim sejak Mbappe kembali ke starting XI usai cedera lutut ringan. Dalam empat pertandingan terakhir, Madrid belum meraih hasil positif.
Ironisnya, saat Mbappe absen, performa Madrid justru terlihat lebih solid. Mereka berhasil menyingkirkan Manchester City di babak 16 besar, bahkan menang kandang-tandang, serta mengalahkan rival sekota Atletico Madrid di La Liga.
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Mbappe. Tapi kedatangannya membuat ruang ganti Real Madrid dipenuhi dengan sikap egois. Ini sebuah kegagalan," ujar Petit.
Ia juga membandingkan situasi ini dengan mantan klub Mbappe, Paris Saint-Germain. Menurutnya, PSG justru tampil lebih kolektif sejak ditinggal sang bintang. "Waktu bermainnya benar-benar tidak menguntungkan baginya," katanya. "Sejak PSG bermain sebagai sebuah tim, mereka luar biasa. Mereka semua bersatu, seperti jari-jari tangan."
Ini bukan kali pertama Petit mengkritik Mbappe. Sebelumnya, ia pernah menyebut sang pemain terlalu haus perhatian dan tidak pantas menjadi kapten tim nasional Prancis setelah kegagalan di Euro 2024.
Namun, Petit tetap mengakui bahwa kartu merah Eduardo Camavinga menjadi momen krusial dalam laga melawan Bayern Munich. Gelandang muda itu menerima kartu kuning kedua setelah melakukan tekel, lalu memperlambat permainan dengan membawa bola menjauh.
"Jika ada yang perlu disalahkan, itu Camavinga," tambahnya. "Pelanggarannya sangat fatal."
“Pada saat itu dalam pertandingan (menit ke-86), kartu merah itu sangat keras, tetapi sayangnya wasit (Slavko Vincic) hanya menerapkan aturan. Real selalu bersembunyi di balik kinerja wasit.”
Kekalahan ini memicu emosi para pemain Real Madrid. Setelah peluit akhir, sejumlah pemain terlihat meluapkan kemarahan kepada wasit. Situasi bahkan sempat memanas saat wasit berjalan menuju terowongan.
Arda Guler, yang tampil gemilang dengan dua gol, ikut tersulut emosi. Ia harus ditahan staf karena berteriak langsung ke arah wasit, yang kemudian memberinya kartu merah. Beberapa pemain lain juga ikut memprotes, termasuk Antonio Rudiger dan Vinicius Junior.
Di sisi lain, pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia secara terang-terangan menyalahkan keputusan wasit. Dia mengatakan kepada pers Spanyol.
“Jelas, Anda tidak bisa mengusir pemain karena hal seperti itu. Wasit bahkan tidak tahu dia punya kartu dan dia merusak pertandingan yang sangat menarik dan seimbang, sebuah pertarungan sesungguhnya, dan begitulah pertandingan berakhir.”
Ketika ditanya kondisi Camavinga, jawabannya singkat: “Seperti orang lain.”
Arbeloa juga menegaskan hal serupa dalam wawancara lain.
“Saya pikir dengan kartu merah itu, semuanya sudah berakhir. Sungguh tidak dapat dipercaya bahwa Anda mengusir pemain karena tindakan ini, tidak mungkin dalam pertandingan seperti itu untuk diusir karena hal seperti ini.”
“Kami merasa sangat, sangat kesal, marah, dan kecewa, dan saya pikir semua ini agak tidak adil.”