Ribuan Warga Genuk Salat Istisqa di Lapangan Karangroto, Berdoa Hujan Segera Turun
UMKM News, SEMARANG -Ribuan warga Genuk, Kota Semarang melaksanakan salat Istisqa di Lapangan Karangroto, jalan Kyai H Zainuddin Raya, Kelurahan Karangroto, Kecamatan Genuk, Selasa (1/9/2026) pagi.
Salat sunnah muakkad tersebut dilaksanakan sekitar pukul 08.00 WIB. Lapangan dipadati jemaah yang datang untuk bersama-sama memanjatkan doa memohon turunnya hujan.
Jemaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian salat Istisqa yang dilaksanakan sebanyak dua rakaat. Pada rakaat pertama terdapat tujuh kali takbir, sedangkan pada rakaat kedua terdapat lima kali takbir.
Tokoh agama di Kecamatan Genuk yang menjadi imam salat tersebut, Muhammad Shohib mengatakan, pelaksanaan salat Istisqa sekaligus menjadi momentum untuk mengingatkan masyarakat mengenai tanggung jawab menjaga lingkungan.
"Dalam khotbah tadi adalah untuk mengingatkan kembali bahwa tumbuhan, lingkungan, dan apa yang ada di dunia ini adalah merupakan tanggung jawab kita semua. Sehingga dengan adanya banyak hutan gundul dan sebagainya ini menyebabkan terjadi sulit mendapatkan hujan," ungkap Muhammad Shohib usai pelaksanaan salat.
Menurutnya, salat Istisqa merupakan bentuk permohonan kepada Allah SWT agar masyarakat segera mendapatkan rahmat berupa turunnya hujan. Hal itu dinilai penting karena kondisi debit air mulai berkurang.
"Kemudian salat istisqa itu sendiri memang salat permohonan untuk minta rahmat dari Allah agar segera diberi hujan, karena mulai saat ini debit air sudah mulai berkurang sehingga merupakan bagian yang menjadi keprihatinan kita semua," ujarnya.
Shohib menyebut jumlah jemaah yang mengikuti salat Istisqa mencapai sekitar 3.000 orang. Jemaah berasal dari berbagai unsur, termasuk lembaga pendidikan di wilayah tersebut.
"Kalau jamaah ini karena dari ya ribuan, 3.000-an, karena dari lembaga pendidikan, dari semuanya jadi satu untuk istilahnya istigasah bersama atau berdoa kepada Allah satu tujuan yaitu memohon agar segera dikasih hujan," terangnya.
Shohib juga menjelaskan, pelaksanaan salat Istisqa dianjurkan dilakukan di tempat terbuka. Sebelum pelaksanaan, umat Islam juga dianjurkan berpuasa selama tiga hari.
"Kalau afdolnya jelas di tempat yang terbuka. Terus 3 hari sebelumnya puasa. Kemudian semua yang punya hewan ternak dan peliharaan itu dikeluarkan dari rumah. Ya cukup dari rumah syukur-syukur bisa dibawa ke lapangan ya tapi ya rasanya kan ada yang tidak bisa dibawa ke lapangan. Ibaratnya itu kita betul-betul butuh, tidak hanya manusia saja, termasuk hewan-hewan itu juga membutuhkan air," jelasnya.
Camat Genuk, Wahyudi mengatakan kekeringan di sejumlah wilayah Genuk mulai terasa sejak Agustus.
Kondisi tersebut terjadi di tengah fenomena kekeringan dan kebakaran yang melanda sejumlah wilayah.
"Jadi kalau kita melihat perkembangan saat ini kan banyak tempat yang mungkin kebakaran dan sebagainya. Di beberapa tempat ini ada kekeringan, sehingga kepedulian masyarakat Genuk ini untuk ikut berpartisipasi kalau kita dalam ajaran agama kita dalam muslim ini diajarkan untuk salat Istisqa ini tentunya kami sebagai umat muslim yang ada di Genuk ini untuk bisa mengikuti kegiatan tersebut," katanya.
Menurut Wahyudi, dampak kekeringan juga mulai terlihat dari berkurangnya pasokan air dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudu, kecamatan Genuk.
"Dampaknya kemarin salah satunya adalah kalau kita melihat di PDAM Kudu (IPA Kudu) itu kan kita melihat pasokannya sudah mulai berkurang sehingga ini salah satu dampaknya," ujarnya.
Wahyudi menyebut, salat Istisqa yang dilaksanakan ini melibatkan masyarakat, tokoh agama, serta berbagai stakeholder di Kecamatan Genuk.
"Salat ini tidak hanya dilaksanakan warga sekitar Karangroto saja. Tapi ini baik dari tokoh masyarakat, tokoh agama dan seluruh stakeholder yang ada di Genuk ini insyaallah terlibat," ucapnya.
Menariknya, salat Istisqa digelar di wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan rawan banjir di Kota Semarang.
Wahyudi mengatakan permohonan hujan tersebut tidak semata-mata melihat kondisi Genuk, tetapi sebagai bentuk kepedulian agar kekeringan dan dampak lainnya dapat segera teratasi.
"Ya memang Genuk ini wilayah yang sering terjadi banjir. Kenapa kita justru salat ini? Karena kita melihatnya bukan hanya Genuk.
Jadi kalau kita diajarkan, innamal a'malu bin niyat kan, sehingga harapan kami ini adalah bentuk kepedulian kita sehingga mungkin hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran dan sebagainya tidak terjadi dan insyaallah untuk penanganan banjir di sini sudah kita melihat di beberapa titik di pompa juga sudah bagus sehingga insyaallah nanti mudah-mudahan doanya bersama tidak terjadi banjir di Genuk," ungkapnya.
Wahyudi menyebut pelaksanaan salat Istisqa ini merupakan yang pertama di Genuk.
"Pertama kali. Pertama kali bahkan tahun kemarin belum ada juga. Puluhan tahun," imbuhnya. (idy)