
Ringkasan Berita:
- Kekeringan Gunungkidul meluas, dengan 17 dari 18 kapanewon mengajukan dropping air bersih. Hanya Playen yang belum mengajukan bantuan.
- Sekitar 90.000 jiwa terdampak kekurangan air bersih. Pemkab menyiapkan 5.100 tangki berkapasitas 5.000 liter melalui anggaran BTT hingga November.
- BPBD menggandeng pihak ketiga untuk penyaluran karena hanya memiliki empat armada tangki aktif. Playen relatif aman karena memiliki cadangan air tanah.
UMKM News, GUNUNGKIDUL - Dampak kekeringan di wilayah Gunungkidul terus meluas. Hingga pertengahan September ini, dari total 18 kapanewon atau kecamatan, 17 di antaranya sudah mengajukan dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga.
Hanya satu kapanewon yang masih aman dari kekeringan, yakni Playen. Sementara 17 kapanewon lainnya sudah mengajukan permintaan pengiriman air bersih.
Untuk mengatasi banyaknya warga yang mengalami kesulitan air bersih ini, Pemerintah Kabupaten(Pemkab) Gunungkidul sudah menggunakan anggaran belanja tak terduga (BTT).
Alokasi untuk program dropping air bersih dari BTT ini sebanyak 5100 tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing 5000 liter per tangki.
Alokasi 5100 tangki air bersih ini akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih hingga November mendatang.
Dikutip dari Kompas.com, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan, hingga saat ini ada sekitar 90.000 jiwa yang mengalami kesulitan air bersih akibat kemarau panjang.
Jumlah itu berasal dari 17 kapanewon yang ada di Gunungkidul.
"Sudah ada sekitar 90.000 jiwa yang terdampak air bersih," kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono saat dihubungi melalui telepon, Sabtu (19/9/2026).
"Tersebar di 17 Kapanewon, sudah mulai kita salurkan bantuan air bersih. Saat ini sudah disalurkan melalui anggaran BTT (belanja tidak terduga) ," kata dia.
Menurut Purwono, dari total 18 kapanewon yang ada di Gunungkidul, hanya Playen yang belum mengajukan bantuan dropping air bersih.
Dikutip dari laman Pemkab Gunungkidul, wilayah Playen memang memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan kapanewon lainnnya.
Wilayah ini berada di kawasan Ledok Wonosari yang relatif memiliki cadangan air tanah.
Kapanewon Playen berada pada ketinggian sekitar 150–200 meter di atas permukaan laut dengan karakter tanah mediteran merah dan grumosol hitam.
Air tanah di kawasan tersebut berada pada kedalaman sekitar 60–120 meter, sementara di sejumlah wilayah juga terdapat sumber mata air dan potensi air bawah tanah.
Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kebutuhan air masyarakat Playen relatif lebih terjaga.
Gandeng Pihak Ketiga
Purwono mengatakan, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyiapkan 5.100 tangki air bersih melalui anggaran BTT.
Untuk penyaluran, BPBD Gunungkidul menggandeng pihak ketiga karena keterbatasan armada tangki yang dimiliki.
Saat ini, hanya empat tangki BPBD yang masih aktif.
"Kita menggandeng pihak ketiga, seperti yang dilakukan Kapanewon. Nanti ditempel banner bantuan Pemkab Gunungkidul," ucap dia.
Bantuan air bersih tersebut telah disalurkan ke sejumlah titik di kapanewon yang membutuhkan.
"Sampai saat ini sudab disalurkan ke sejumlah titik Kapanewon seperti Purwosari, Panggang, dan Kapanewon lainnya," kata Purwono.
Purwono mengatakan, penyaluran 5.100 tangki air bersih tersebut akan dilakukan hingga November mendatang. Hal ini sesuai dengan perkiraan BMKG bahwa hujan akan mulai turun pada pertengahan November.
Menurut dia, bantuan air bersih tetap disalurkan pada awal musim hujan karena air hujan belum langsung mampu mencukupi kebutuhan warga.
"Warga diimbau untuk menghemat air bersih, karena kemarau masih sedikit panjang," kata dia.
Berikut daftar kapanewon yang mengalami kesulitan air bersih di wilayah Gunungkidul :
- Purwosari
- Panggang
- Paliyan
- Tepus
- Rongkop
- Girisubo
- Tanjungsari
- Patuk
- Gedangsari
- Nglipar
- Semanu
- Ponjong
- Semin
- Karangmojo
- Saptosari
- Ngawen
- Wonosari
NB : Wilayah yang mengalami kesulitan air bersih di 17 kapanewon tersebut tersebar di sejumlah titik sehingga tidak merata di seluruh kecamatan.
Sebagian artikel ini sudah tayang di Kompas.com.