Teknologi Canggih Mobil Listrik Ada Batasnya, Ini Alasan Sopir Tetap Penentu Utama di Jalan
Belajar dari kecelakaan beruntun BYD M6 di Kembanagan, Jakbar. Teknologi mobil ada batasnya dan penentu di jalan tetap si sopir
UMKM News/ Knowledge
Ferdian September 9th, 4:35 PM September 9th, 4:35 PMUMKM News - Belum lama ini ramai dibahas kecelakaan beruntun yang melibatkan BYD M6 3 kendaraan lainnya di kawasan Kembangan, Jakarta Barat.
Dalam peristiwa ini 3 orang dikabarkan meninggal dunia.
Berdasarkan informasi kepolisian, mobil listrik BYD yang berada di posisi paling belakang menabrak kendaraan di depannya secara beruntun.
Setelah itu, kendaraan tersebut kehilangan kendali, oleng ke arah kanan, hingga menabrak tiang listrik.
Motor yang membawa tiga korban berada di sisi jalan saat kejadian.
Akibat insiden tersebut, satu pria, satu wanita yang diduga pasangan suami istri, serta seorang balita meninggal dunia.
Dari hasil pemeriksaan awal, kecelakaan tersebut diduga bukan disebabkan oleh masalah teknis kendaraan listrik.
Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Barat Kompol Reza Hafiz Gumilang mengatakan, dugaan sementara kecelakaan terjadi karena faktor pengemudi.
"Dugaan awal human error (pengemudi mobil BYD), out of control. Namun masih perlu didalami kembali," kata Reza, dikutip Kompas.com, Selasa (8/9/2026).
Istilah out of control dalam kecelakaan lalu lintas biasanya merujuk pada kondisi ketika pengemudi kehilangan kendali terhadap kendaraan yang dikemudikan.
Dalam kasus tersebut, penyebab pasti masih dalam proses penyelidikan. Namun, dugaan awal mengarah pada faktor manusia atau human error.
Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengatakan, kecelakaan lalu lintas umumnya tidak bisa hanya dilihat dari kondisi kendaraan.
Menurutnya, terdapat empat faktor utama yang dapat menyebabkan kecelakaan, yaitu manusia, kendaraan, lingkungan, dan cuaca.
"Kecelakaan ada empat faktor penyebabnya, yaitu manusia, kendaraan, lingkungan, cuaca. Manusia adalah faktor utama. Lainnya ialah kontributor bukan faktor utama dalam kecelakaan," kata Jusri.
Menurut Jusri, faktor manusia menjadi penyebab dominan dalam banyak kejadian kecelakaan.
Sementara faktor kendaraan, kondisi jalan, maupun cuaca biasanya menjadi faktor pendukung.
Jusri menjelaskan, ketika kecelakaan disebut terjadi akibat human error, hal tersebut biasanya berkaitan dengan tindakan pengemudi sebelum insiden terjadi.
Mulai dari cara mengemudi yang kurang tepat, tidak menjaga jarak aman, hingga melakukan pelanggaran lalu lintas.
"Kalau dibilang human error itu sudah pasti. Dari semua sejarah kecelakaan itu adalah human error, dan polisi selalu mengatakan bahwa kecelakaan diawali dengan pelanggaran. Nah, kalau pelanggaran pasti human error," ujar Jusri.
Menurutnya, istilah human error terkadang dianggap terlalu sederhana sehingga penyebab lain seperti kendaraan atau kondisi jalan justru lebih sering disorot.
Padahal, faktor manusia tetap menjadi bagian penting yang perlu dievaluasi.
Perkembangan teknologi pada kendaraan, termasuk mobil listrik, memang menghadirkan berbagai fitur keselamatan seperti sensor, pengereman otomatis, hingga sistem bantuan pengemudi.
Namun, teknologi tersebut tetap memiliki batasan dan tidak dapat menggantikan peran pengemudi dalam mengambil keputusan saat berkendara.
Jusri memberikan contoh bahwa kondisi jalan atau kendaraan tidak selalu menjadi penyebab utama kecelakaan.
"Analogi, di suatu jalan ada oli, kemudian disebutkan kecelakaan itu karena oli semata, itu salah. Ban saya gundul, di depan ada oli pasti selip kan, tapi kalau saya berjalannya pelan kan belum tentu selip," kata Jusri.
Karena itu, pengemudi tetap menjadi faktor utama dalam menjaga keselamatan berkendara, termasuk saat mengoperasikan kendaraan dengan teknologi modern seperti mobil listrik.
Copyright UMKM News2026
Related Article