Teknologi penangkap karbon tersedia, tetapi kapasitas jadi kendala

Eropa baru saja meresmikan fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon yang digadang sebagai fasilitas terbesar di benua itu. Namun, skenario iklim global menuntut kapasitas yang jauh lebih besar.

Selama bertahun-tahun telah dibicarakan tentang penangkapan dan penyimpanan karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil sebagai salah satu cara untuk mencegah planet ini memanas berlebihan. Faktanya, badan iklim PBB memperkirakan: diperlukan penyimpanan CO₂ antara 350 hingga 1.200 gigaton dalam satu abad ini untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.

Namun, apakah hal ini benar-benar terealisasi? Jawabannya ya dan tidak.

Penangkapan atau penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS), adalah upaya untuk menangkap CO₂ pada titik-titik sumbernya. Bisa berupa cerobong asap atau pabrik amonia, titik terkonsentrasi di mana gas rumah kaca dilepaskan.

Setelah ditangkap, CO₂ tersebut dikompresi dan diangkut, biasanya menggunakan pipa atau kereta api, sebelum disimpan secara geologis, misalnya di akuifer atau reservoir minyak tua.

CCS terkait namun berbeda dari CDR atau penghilangan karbon dioksida. CDR menarik CO₂ dari atmosfer setelah gas tersebut terlepas ke udara. CO₂ tersebut sering disimpan dengan cara yang serupa dengan CCS, tetapi menggunakan teknologi penangkapan yang sangat berbeda.

"Mengingat peninggalan emisi di atmosfer, serta posisi kita saat ini dalam upaya pengurangan emisi, kita akan membutuhkan pendekatan-pendekatan ini," kata Wil Burns, wakil direktur Institute for Carbon Removal Law & Policy di American University.

"Kita hanya perlu mencari cara untuk menggunakannya dengan bijak sembari fokus pada tujuan utama, yaitu dekarbonisasi."

Teknologi berfungsi, tetapi skala belum mumpuni

Kelayakan CCS dan CDR menjadi topik perdebatan hangat di kalangan ilmuwan dan aktivis iklim.

Para pendukung perluasan teknologi ini menyatakan bahwa hambatan utama dalam membangun lebih banyak fasilitas adalah diperlukannya subsidi pemerintah dan intervensi kebijakan.

Tanpa pemerintah yang menetapkan harga karbon atau menawarkan insentif pajak, para ahli mengatakan sulit membayangkan investor bersedia mengeluarkan dana untuk proyek-proyek komersial mahal ini. Sebaliknya, energi terbarukan telah menjadi opsi yang begitu murah seiring waktu sehingga sering kali lebih layak secara komersial.

"Secara teknologi, ini sudah siap dijalankan. Kita tahu cara melakukan proses ini," kata Susan Hovorka, seorang ahli geosains di Universitas Texas-Austin, yang telah meneliti CCS sejak 1998.

Awal Mula CCS

Sejarah CCS bermula pada tahun 1960-an, dikenal dengan teknik Enhanced Oil Recovery, di mana perusahaan minyak mulai menangkap CO₂ dan menyuntikkannya ke ladang minyak guna membantu mengeluarkan lebih banyak minyak dari dalam tanah.

Baru pada tahun 1996 proyek CCS skala besar pertama yang dirancang untuk mengurangi emisi mulai beroperasi di Norwegia.

Sejak saat itu, kemajuan terus meningkat secara perlahan. Pada tahun 2020, terdapat 26 fasilitas CCS komersial yang beroperasi di seluruh dunia. Hingga musim panas lalu, jumlahnya telah meningkat hampir tiga kali lipat.

Namun, pihak lain berpendapat bahwa teknologi ini masih dalam tahap awal, dan penerapannya di dunia nyata masih jauh tertinggal dibandingkan pengetahuan teknis yang kita miliki.

"Pengalaman komersial dalam melakukan hal ini belum mapan dan belum dalam skala besar," kata Danny Cullenward, seorang ekonom di Kleinman Center for Energy Policy, Universitas Pennsylvania. Selain itu menurutnya perlu "Membuktikan bahwa teknologi ini berfungsi, prosesnya mudah, hemat biaya, dapat diterapkan dalam skala besar, dan dapat difungsikan di berbagai lokasi yang berbeda."

Para peneliti dari Universitas Texas-Austin baru-baru ini mengungkap bahwa meskipun proyek percontohan skala kecil telah berhasil menyuntikkan CO₂ ke dalam tanah, namun banyak inisiatif CCS skala besar di dunia yang memompa CO₂ jauh lebih sedikit ke lokasi penyimpanan dari jumlah yang telah dijanjikan.

Kapasitasnya tersebut pun terbatas. Meskipun perkiraan sebelumnya menempatkan kapasitas penyimpanan CO₂ Bumi di antara 10.000 hingga 40.000 gigaton, sebuah studi baru menemukan angkanya hanya sekitar 1.460 gigaton, yang berarti sebagian besar skenario iklim yang bergantung pada CCS akan melampaui batas penyimpanan planet ini dalam 250 tahun ke depan.

Model iklim mengandalkan teknologi baru

Mulai minggu ini, raksasa pupuk Eropa, Yara, akan meluncurkan proyek penangkapan karbon terbesar di Eropa.

Perusahaan ini akan mengumpulkan kelebihan CO₂ di pabriknya di Sluiskil, Belanda, mencairkannya, dan mengirimkannya ke pantai Atlantik Norwegia untuk disimpan di batuan bawah tanah, sekitar 2.600 meter di bawah dasar laut.

Pabrik tersebut hanya mampu menangkap 800.000 metrik ton CO₂ per tahun. Untuk mencapai ambang batas 350 gigaton (batas bawah skenario iklim PBB yang digunakan sebagai dasar kebijakan iklim) diperlukan sekitar 5.800 pabrik seukuran Yara lagi untuk dapat segera beroperasi.

Badan Energi Internasional (IEA), sebuah badan antar pemerintah yang memodelkan data iklim, memperkirakan 7,6 gigaton karbon akan ditangkap setiap tahunnya hingga tahun 2050, dengan hampir seluruhnya disimpan.

Saat ini, 77 pabrik yang beroperasi di seluruh dunia mampu menangkap 64 juta ton per tahun. Output tersebut perlu dikalikan dengan 119 selama seperempat abad ke depan untuk mencapai angka yang diperkirakan IEA.

"Skala yang diminta dalam skenario-skenario tersebut jauh melampaui aktivitas nyata apa pun yang ada saat ini," kata Cullenward.

Ia mengatakan model iklim cenderung meremehkan energi terbarukan dan terlalu bergantung pada teknologi canggih.

Ini disebabkan karena model iklim memiliki tiga cara untuk mencapai target iklim yang ambisius: menambah lebih banyak energi terbarukan, mengurangi konsumsi energi, atau bertaruh pada teknologi baru yang menyelesaikan masalah tanpa memaksa masyarakat untuk banyak berubah.

"Jika Anda menuntut model iklim untuk memecahkan masalah yang mustahil, itu seperti menuangkan air ke bawah tangga. Model iklim tersebut tentu akan mencari jalan tercepat untuk mencapai tujuan," kata Cullenward.

Izin untuk memperpanjang ekstraksi?

Salah satu perdebatan paling kontroversial mengenai CCS adalah apakah teknologi ini mewakili solusi dekarbonisasi yang sah atau sekadar taktik perusahaan minyak dan gas untuk memperpanjang ekstraksi bahan bakar fosil.

Pada tahun 2023, sekitar 80% kapasitas CCS dunia digunakan untuk pemulihan minyak. Menurut kelompok riset dan advokasi Oil Change International, pada akhirnya hal tersebut meningkatkan emisi dan menghilangkan manfaat CCS bagi iklim.

Beberapa peneliti juga berpendapat bahwa CCS menimbulkan risiko moral atau situasi di mana perlindungan justru memungkinkan risiko yang lebih besar.

Di sisi lain, para pendukung teknologi ini sering kali berbicara tentang mengalokasikan CCS untuk industri yang emisinya sulit dikurangi, seperti semen.

"Saya tidak berpikir kita akan mencapai 5, 10, atau 20 gigaton per tahun dalam penghilangan karbon," kata Cullenward. "Tetapi kita perlu mengupayakannya sebanyak mungkin. Bagi saya itu adalah alasan untuk lebih terlibat."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Muhammad Hanafi

ind:content_author: Josh Axelrod

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama