Ringkasan Berita:
- Kesepakatan Super Intelligence yang ditandatangani Donald Trump dan enam eksekutif teknologi menjadi sorotan karena typo "Unites States".
- Kesalahan itu memicu ejekan netizen dan sejumlah politisi di media sosial.
- Dokumen tersebut berisi komitmen perusahaan teknologi untuk memperkuat pengawasan dan keamanan pengembangan AI.
UMKM News- Kesepakatan terbaru Presiden AS Donald Trump tentang Super Intelligence atau Kecerdasan Super menjadi viral di media sosial.
Bukan karena isinya, kesepakatan itu menjadi sorotan karena terdapat typo atau kesalahan ketik di dalamnya.
Mengutip USA Today, kesepakatan tentang pengembangan teknologi secara aman itu ditandatangani oleh Trump dan para eksekutif teknologi terkemuka di Gedung Putih pada 29 September.
Namun, terdapat kesalahan ejaan di bawah tanda tangan presiden.
"United States" justru ditulis "Unites States".
Dokumen tersebut kemudian diunggah ke akun media sosial Gedung Putih pada 30 September 2026.
Netizen dengan cepat menemukan kesalahan tersebut.
Sejumlah pengguna media sosial dan politisi, termasuk Gubernur California Gavin Newsom, langsung mencemooh kesalahan tersebut.
"Era emas 'Kecerdasan Super'," tulis Newsom.
Anggota DPR Jim McGovern menambahkan:
"Kemampuan mengeja nama negara kita seharusnya menjadi prasyarat untuk memegang jabatan publik."
Apa Isi Dokumen Kesepakatan Kecerdasan Super?
Kesepakatan tentang "Kecerdasan Super", istilah yang digunakan Trump untuk mengubah citra kecerdasan buatan, ditandatangani oleh dirinya dan enam eksekutif dari perusahaan teknologi terbesar di negara itu.
Kesepakatan tersebut menyerukan kepada perusahaan-perusahaan untuk memiliki proses dan kontrol internal yang kuat guna memastikan teknologi mereka berfungsi sebagaimana mestinya.
Dokumen ini juga meminta perusahaan untuk bermitra dengan auditor eksternal independen guna melakukan penilaian serta menunjuk komite independen dari dewan direksi untuk mengawasi dan menerima laporan terkait ketentuan yang mengatur pengendalian.
Para eksekutif yang menandatangani dokumen tersebut yakni CEO Google Sundar Pichai, CEO Anthropic Dario Amodei, CEO Meta Mark Zuckerberg, Greg Brockman dari OpenAI, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO xAI Elon Musk.
Trump menyebut dokumen itu mengikat secara moral, dengan aspek pengawasan diri yang luar biasa.
"Mereka mencintai negara kita, mereka mencintai dunia dan mereka bersatu," kata Trump.
"Ini hampir seperti konstitusi. Orang-orang terbesar di dunia menandatanganinya dan saya menandatanganinya sebagai presiden."
Zuckerberg, saat berbicara kepada pers setelah menandatangani dokumen tersebut, mengatakan bahwa gagasan dasarnya adalah memberikan kepercayaan kepada rakyat Amerika dan pelanggan bahwa teknologi ini bekerja sesuai dengan yang mereka inginkan.
Dia menambahkan bahwa saat ini setiap perusahaan membangun sesuatu dengan standar yang berbeda.
AI Diganti Menjadi SI
Trump sangat ingin menyebut kesepakatan tersebut sebagai "Kecerdasan Super", atau "SI", bukan lagi "Kecerdasan Buatan" atau "AI".
Sebelumnya, ia berpendapat bahwa istilah "buatan" tidak tepat untuk menggambarkan teknologi tersebut.
Ia juga pernah mengatakan bahwa AI bisa menjadi lebih besar daripada internet.
Meskipun istilah tersebut sekarang digunakan oleh pemerintahan Trump, industri teknologi belum mengadopsi nama tersebut.
Menurut para akademisi yang dikutip oleh DW, kecerdasan super adalah istilah yang akan digunakan di masa depan.
Istilah ini seharusnya digunakan ketika teknologi dapat mengalahkan manusia di semua bidang, dan tonggak sejarah itu masih jauh.
"Sebagian besar AI bukanlah kecerdasan super, itu hanya kecerdasan yang berbeda," kata Pedro Domingos, seorang profesor ilmu komputer dari Universitas Washington, kepada DW.
"AI melakukan hal-hal yang berbeda dari yang dilakukan manusia, jadi menyebutnya kecerdasan super menyesatkan."
Kesalahan Typo Bukan Pertama Kali Terjadi
Ini bukan pertama kalinya Gedung Putih melakukan kesalahan ketik.
Mengutip First Post, pada Januari 2017, hanya beberapa hari setelah Trump memulai masa jabatan pertamanya, Gedung Putih salah mengeja nama PM Inggris saat itu, Theresa May, menjadi "Teresa May" sebanyak tiga kali dalam jadwal resmi dan memo yang dikirim kepada pers.
Meskipun kesalahan tersebut segera diperbaiki, hal itu menimbulkan kekhawatiran yang cukup besar di dalam Gedung Putih.
Hal ini menyebabkan Kepala Staf saat itu, Reince Priebus, memperkenalkan lapisan persetujuan tambahan untuk rilis resmi, menurut The Washington Post.
Masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih juga mengubah "perdamaian yang abadi" (lasting peace) menjadi "persik yang abadi" (lasting peach) dalam sebuah komunikasi resmi.
Selain itu, dalam jadwal publik lainnya, ia menyebut "Air Force One" sebagai "Air Force Once".
(UMKM News, Tiara Shelavie)