MELINDA RAHMAWATI, M.Pd., alumnus Pendidikan IPS, Pascasarjana-Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, melaporkan dari Jakarta
Akhirnya, setelah berganti-ganti purnama, pameran “Dari Batavia Ke Baitullah: Memori Haji Masa Silam” telah diresmikan di Museum Arkeologi Onrust, Pulau Onrust, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Tepat pada 20 Agustus 2026, pameran tersebut diresmikan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Aspemkesra) Kabupaten Kepulauan Seribu, Purnomo.
Dalam suasana hangat tersebut, turut hadir H.E. Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh selaku Duta Besar Republik Yaman untuk Indonesia; Mr. Badr bin Saif Al Fulaiti selaku Museum Affairs Supervisor, Ministry of Heritage and Tourism of The Sultanate of Oman; Mr. Hassan Abdullah Saleh Al Shukaili selaku Head of Collection Section at Oman Maritime History Museum, Ministry of Heritage and Tourism of The Sultanate of Oman; dan Head of Acquisition Management Departemen, Ministry of Heritage and Tourism of The Sultanate of Oman.
Pameran tersebut resmi dibuka untuk umum mulai 21 Agustus 2026-1 Januari 2027.
Pameran terbagi dalam empat zona utama, yakni Zona 1: Onrust, Si Pulau Haji; Zona 2: Perjalanan Haji pada Masa Silam; Zona 3: Hajah: Perempuan dan Peristiwa Haji; Zona 4: Haji-Haji Revolusi. Setiap zona menyajikan informasi mengenai sisi lain perjalanan haji era kolonial di masa lalu yang sarat tantangan. Tidak sebatas tantangan kesehatan, tantangan lainnya, seperti regulasi pembatasan maskapai yang melayani perjalanan haji, pengawasan pada masa prakeberangkatan hingga pascakepulangan para jemaah ke kampung halaman masing-masing, hingga masalah kondisi alam dan fenomena yang menyertai cerita perjalanan haji ini. Mereka yang kini biasa kita sapa “Pak Haji dan Bu Hajah”, tentu punya berbagai memoar dari perjalanan itu. Sebuah perjalanan panjang yang penuh cerita humanis dan belum semuanya terungkap.
Sebagai salah satu kurator dalam pameran tersebut, secara khusus saya ditugaskan untuk mengisi materi pameran pada Zona 3: Hajah: Perempuan dan Peristiwa Haji. Menjadi sebuah pengalaman sekaligus tantangan baru untuk menuliskan tentang jejak perjalanan para jemaah perempuan dari Batavia hingga ke Tanah Suci, serta berbagai peristiwa yang menyertai perjalanan mereka.
Zona tersebut kemudian terbagi dalam lima topik pembahasan, di antaranya, Haji Perempuan dari Hindia Belanda, Pengalaman Perempuan Berhaji Menyeberangi Lautan, Haji Perempuan yang Bermukim, Jemaah Haji Perempuan sebagai Istri dan Pendamping, serta Jemaah Haji Perempuan dalam Perbudakan.
Dalam laporan penelitian berjudul “Depticting The Hajjah: Female Pilgrims from the Ducth East Indies in the Late 19th – Eearly 20th Century” yang ditulis oleh Tika Ramandhini tahun 2016, secara khusus disampaikan sebuah tabel khusus berisi informasi tentang total jemaah haji perempuan yang terdaftar oleh Konsulat Jeddah dari tahun 1898-1939. Sebagai pelengkap, disajikan daftar pahlawan nasional perempuan yang bergelar hajah, seperti: Agung Hajjah Andi Depu (Andi Depu Maraddia Balanipa) dari Mandar, Sulawesi Selatan; Rangkayo Rasuna Said dan Rahmah El Yunusiyah dari Sumatra Barat; Maria Ulfa Santoso dari Banten; serta Siti Walidah dari Yogyakarta.
Cerita dimulai dari catatan perjalanan yang ditulis oleh Eric Tagliacozzo dalam “The Longest Journey: Southeast Asians and the Pilgrimage to Mecca” tahun 2013. Dalam buku tersebut, disampaikan bahwa telah cukup banyak jemaah haji perempuan yang berasal dari Hindia Timur tiba di Makkah. Namun sayang, dokumentasinya tidak banyak yang tersedia karena berbagai faktor, seperti: keberangkatan mereka bersama mahramnya masing-masing, sehingga keberadaannya sudah dihitung satu paket dengan mahram; jemaah perempuan tersebut yang bepergian tidak dengan mahramnya dihitung satu paket oleh mutawifnya masing-masing dan keberadaannya menjadi tanggung jawab mutawif. Oleh sebab itu, pihak Konsulat Jeddah jelas tidak selalu memiliki data pasti mengenai jemaah haji perempuan dari Hindia Timur yang tiba untuk melaksanakan ibadah haji ataupun yang menetap di Makkah.
Rumah Pattani
Meski begitu, Francis R. Bradley dalam “Islamic Reform, the Family, and Knowledge Networks Linking Mecca to Southeast Asia in Nineteenth Century” tahun 2024 menyebut, pengaruh eksternal seperti Perang Siam yang mengakibatkan adanya migrasi penduduk muslim Pattani ke Makkah, menjadi titik awal dari hadirnya “Rumah Pattani” yang berkembang menjadi lingkungan komunitas para jemaah haji dari Hindia Timur. Termasuk, para imigran yang sengaja datang untuk melanjutkan pendidikan di berbagai majelis ilmu dan para ulama di Makkah.
Seiring waktu, di masa itu, mulai bermunculan beberapa mubaligah yang menjalankan dakwahnya dan mulai memberi contoh bentuk kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Berikutnya, dalam pembahasan mengenai pengalaman perempuan berhaji menyeberangi lautan, kita menemukan sebuah dokumen buku harian yang ditulis oleh R.A.A. Wiranatakusumah, Bupati Bandung yang secara langsung melaksanakan ibadah haji di masa Kolonial Belanda. Dalam catatan yang ditulisnya, tergambar jelas adanya perempuan yang turut serta menjadi mutawif dari jemaah perempuan yang akan berangkat ke Makkah. Kehadiran mutawif perempun juga sebetulnya tidak lepas dari berbagai laporan yang dikirimkan ke Konsulat Jeddah terkait tindak kriminalitas, diskriminasi, asusila, dan tindak pidana lainnya yang dilakukan baik antara jemaah laki-laki dan perempuan maupun antara mutawif laki-laki dan jemaah haji perempuan.
Padahal, pada masa itu situasi kehidupan di kapal terbilang tidak kondusif karena tidak adanya perbedaan ruangan antara jemaah laki-laki dan perempuan. Mereka disatukan dalam satu dek kelas 3 yang terbilang tidak layak dan berdesakan di sana. Miris jika membayangkan situasi kehidupan mereka di kapal uap selama perjalanan dari Batavia hingga tiba di Makkah.
Belum termasuk saat mereka tiba di Pulau Kamaran, Yaman. Di sana, para jemaah masih harus melakukan pemeriksaan kesehatan di stasiun karantina sebelum melanjutkan perjalanan dua hari pelayaran menuju Jeddah. Di stasiun karantina itu, fasilitas yang tersedia juga tidak selalu dapat mengakomodasi kebutuhan dasar para jemaah, seperti kurangnya jumlah selimut, tempat tidur yang tidak terawat, kamar mandi yang kotor, serta perlakuan tidak baik terhadap jemaah perempuan.
Di pameran ini, masih sangat banyak cerita humanis yang tak banyak diketahui sebelumnya.
Selama proses penggarapan materi pameran, tentu saja saya terkenang buku yang saya tulis bersama Pak Yarmen Dinamika (jurnalis dan Pembina FAMe) dan Pak Muhamad Ihwan (Kepala BAST-ANRI Aceh) berjudul “Menyingkap Keberadaan dan Peran Stasiun Karantina Haji Pulau Rubiah” tahun 2025 lalu. Miris melihat peninggalan arkeologi di pulau itu yang banyak terbengkalai, bahkan nyaris hilang jejaknya. Pulau yang dulu juga berfungsi sebagai stasiun karantina haji untuk jemaah haji asal Sumatra, kini hanya dikenal sebagai surganya wisata air. Akankah Stasiun Karantina Haji Pulau Rubiah ikut bercerita seperti di Pulau Onrust? Mari kita tunggu bersama kejutannya. (melinda.rahmawati7@gmail.com)