Netanyahu Dituduh Serang Iran Sebelum 30 Maret, Ini Motifnya

Netanyahu Dituduh Serang Iran Sebelum 30 Maret, Ini Motifnya

Dinamika Politik Israel dan Peran Konflik dengan Iran

Perang yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran menjadi salah satu faktor utama dalam dinamika politik domestik negara tersebut. Analis menilai bahwa arah dan durasi konflik ini sangat memengaruhi situasi pemerintahan Netanyahu, terutama mengingat tenggat waktu penting pada 30 Maret 2026 untuk pengesahan anggaran negara.

Netanyahu diduga sengaja melancarkan serangan ke Iran sebelum tenggat waktu tersebut, agar pengesahan anggaran bisa ditunda. Jika anggaran tidak disahkan, pemerintahan Netanyahu akan jatuh pada 1 April 2026, dan Israel harus menggelar pemilihan umum lebih cepat. Dalam situasi seperti ini, Netanyahu dianggap akan memasuki masa kampanye dari posisi politik yang lemah.

Popularitas yang Tergerus oleh Perang Gaza

Popularitas Netanyahu merosot tajam setelah perang di Gaza yang dimulai dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan ini menjadi hari paling mematikan dalam sejarah Israel, dan banyak pengkritiknya menuding ia gagal mencegah serangan tersebut. Sebagai perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, Netanyahu memiliki total masa jabatan lebih dari 18 tahun dalam beberapa periode.

Namun, sejak pertengahan 2025, ia kehilangan mayoritas parlemen akibat krisis politik dengan sekutu ultra-Ortodoksnya. Di tengah tekanan politik, Netanyahu juga masih menjalani persidangan kasus korupsi yang telah berlangsung lama. Ia bahkan dilaporkan meminta ampunan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog.

Upaya Pulihkan Citra Lewat Perang Iran

Sehari setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam gelombang serangan gabungan AS-Israel, Netanyahu menegaskan bahwa kedekatannya dengan Washington memainkan peran penting dalam operasi tersebut. Ia menyebut hubungan eratnya dengan Amerika Serikat memungkinkan Israel melakukan hal yang telah lama diinginkannya selama lebih dari 40 tahun, yakni melancarkan serangan besar terhadap Iran.

Analis politik dari Tel Aviv University, Emmanuel Navon, menilai bahwa Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu. "Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober mengingat peringatan 7 Oktober," ujarnya. Menurut Navon, posisi politik Netanyahu yang sempat berada di titik terendah kini mulai membaik.

Penilaian dari Para Ahli

Navon juga menyoroti serangkaian pukulan militer Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya perang Gaza. Berdasarkan sejumlah jajak pendapat, Partai Likud diperkirakan unggul apabila pemilu digelar dalam waktu dekat. Meski demikian, partai tersebut masih berpotensi kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini.

Analis geopolitik independen Michael Horowitz mengatakan serangan terhadap Iran memperkuat citra yang ingin dibangun Netanyahu. “Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan ‘kemenangan total’-nya,” ujarnya.

Perspektif yang Berbeda

Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu. Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan orang-orang bahwa kemenangan itu total meskipun hanya ilusi, sembari menekankan bahwa "Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026)."

Di situs berita Walla, jurnalis Ouriel Deskal bahkan menilai waktu pecahnya konflik bisa berkaitan dengan tenggat politik domestik. Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran yang sulit ia dapatkan dukungannya di parlemen.

Risiko dan Tantangan yang Tetap Ada

Meski demikian, Horowitz mengingatkan bahwa risiko tetap ada jika konflik berkepanjangan. "Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah," ujarnya. Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran.

Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu. "Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya," katanya. "Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu."


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama