
Protes Diplomatik Rusia dan Tiongkok terhadap Serangan AS-Israel ke Iran
Dua negara besar, Rusia dan Tiongkok, telah melakukan protes diplomatik terhadap serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, meminta Israel untuk menghentikan serangan tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, menyatakan bahwa tidak ada bukti bahwa Teheran sedang berupaya mengembangkan bom nuklir.
Pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok menunjukkan bahwa serangan terhadap Iran terjadi pada saat negosiasi antara Washington dan Teheran sedang mencapai kemajuan signifikan, termasuk mengatasi kekhawatiran keamanan Israel. Wang Yi menekankan bahwa China menentang setiap serangan militer yang dilakukan oleh Israel dan AS terhadap Iran. Ia juga menyerukan penghentian segera operasi militer untuk mencegah eskalasi konflik.
Kritik dari Menteri Luar Negeri Rusia
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, mengkritik tindakan AS dan Israel terhadap Iran. Menurutnya, perang yang dilancarkan dapat menyebabkan hasil yang justru ingin dihindari, yaitu proliferasi nuklir. Lavrov menyatakan bahwa konsekuensi logis dari tindakan AS dan Israel adalah akan muncul kekuatan di Iran yang mendukung untuk melakukan apa yang ingin dihindari Amerika, yaitu menciptakan bom nuklir.
Ia juga menyatakan bahwa negara-negara Arab kini dapat bergabung dalam perlombaan untuk memperoleh senjata nuklir, mengingat pengalaman beberapa hari terakhir dan masalah proliferasi nuklir akan mulai lepas kendali.
Pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Berikutnya
Di sisi lain, Majelis Pakar Iran memilih putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya. Keputusan ini belum diumumkan secara publik dan diperkirakan akan diumumkan setelah Ali Khamenei dimakamkan. Ini bukanlah suksesi rutin, tetapi keputusan masa perang yang dibentuk oleh negara keamanan, yang menimbulkan pertanyaan serius tentang prosedur konstitusional.
Prioritas utama IRGC adalah stabilitas internal, dengan kombinasi kontrol dan legitimasi menjadi faktor penting dalam pemilihan Mojtaba. Dia memiliki hubungan yang sudah lama terjalin dengan IRGC dan posisi yang langka, dekat dengan inti keamanan, tetapi juga terhubung dengan kepemimpinan sipil dan ulama.
Masa Depan Iran di Persimpangan Jalan
Kini, Iran dihadapkan pada dua arah yang berbeda. Salah satu opsi adalah terus berjuang, tetap menantang, dan mencoba bertahan lebih lama dari serangan. Alternatif lainnya adalah mundur dan menerima konsesi besar untuk menghentikan perang dan mengurangi tekanan.
Mojtaba berada dalam posisi yang baik untuk menempuh kedua jalur tersebut. Jika sistem memilih kesepakatan yang pahit, dibutuhkan seseorang yang dapat bertanggung jawab dan mencegah kelompok garis keras berbalik melawan kepemimpinan. Jika sistem memilih untuk terus berjuang, dibutuhkan seseorang yang dapat menjaga persatuan IRGC dan menjaga agar negara keamanan tetap berfungsi di bawah serangan yang berkelanjutan.
Masalah Darah dan Balas Dendam
Peluang melakukan perundingan dengan Donald Trump tidaklah mungkin bagi Ali Khamenei. Dalam narasi Teheran, Trump menginginkan Iran menyerah dan bertanggung jawab atas kematian Qasem Soleimani. Khamenei berulang kali menolak rekonsiliasi dan menyerukan qisas, sebuah konsep dalam hukum Islam yang berarti pembalasan.
Bagi penerusnya, bebannya lebih berat. Trump kini tidak hanya menanggung darah Soleimani, tetapi juga Ali Khamenei. Hal itu membuat kompromi apa pun jauh lebih sulit untuk diterima, dan juga meningkatkan taruhan domestik untuk setiap keputusan yang mengarah pada eskalasi.
Bagaimana Jika Mojtaba Mundur?
Jika Mojtaba memilih kelangsungan rezim daripada konfrontasi, harganya akan sangat mahal. De-eskalasi yang serius kemungkinan besar berarti menerima tuntutan Trump, termasuk mengakhiri program pengayaan sebagai proyek nasional, menerima batasan jangka panjang dan dapat ditegakkan pada jangkauan rudal, mengurangi atau meninggalkan jaringan proxy, dan mengakhiri kebijakan konfrontasi dengan Israel.
Republik Islam menghadapi realitas yang hampir menyerupai negara gagal: ekonomi yang sangat tertekan, lembaga-lembaga yang terkikis, dan permusuhan publik yang begitu tinggi sehingga pemerintahan normal sulit dipertahankan. Penghentian serangan tidak akan memulihkan kapasitas, kepercayaan, atau otoritas.
Kesimpulan
Mojtaba Khamenei memulai dari reruntuhan dunia ayahnya. Pilihan Republik Islam semuanya mahal, kelangsungan hidupnya tidak lagi terjamin, dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun, waktu adalah satu-satunya hal yang tidak dapat dibeli Teheran.