Gempa M7,1 Guncang Jepang, Mall AEON Ambruk dan Banyak Korban Tewas

Gempa Bumi Magnitudo 7,1 Mengguncang Prefektur Kumamoto

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, pada hari Selasa (28/7). Gempa ini menyebabkan kerusakan luas dan melumpuhkan berbagai aktivitas. Salah satu insiden terparah terjadi ketika sebagian bangunan pusat perbelanjaan AEON Mall di Kota Kashima ambruk setelah dilaporkan terjadi ledakan.

Gempa tersebut mencapai intensitas shindo 7, tingkat tertinggi dalam skala intensitas gempa Jepang. Guncangan kuat diikuti sejumlah gempa susulan, sehingga pemerintah meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa besar berikutnya.

Kerusakan Serius di Pusat Perbelanjaan

Pejabat setempat mengatakan lantai dua AEON Mall diduga runtuh setelah muncul laporan ledakan dan kepulan asap putih dari dalam bangunan. Sumber Kepolisian Kumamoto yang dikutip penyiar lokal RKK menyebut diperkirakan terdapat banyak korban jiwa akibat runtuhnya pusat perbelanjaan tersebut.

NHK kemudian melaporkan sekitar 20 hingga 30 karyawan pusat perbelanjaan masih belum dapat dihubungi. Sementara itu, empat orang berhasil dievakuasi ke rumah sakit dalam kondisi sadar.

Sebelum bangunan runtuh, sekitar 200 orang dilaporkan telah mengungsi ke area parkir pusat perbelanjaan. Rekaman video menunjukkan sebagian dinding luar gedung terlepas hingga memperlihatkan rangka baja bangunan.

Korban Luka Bertambah

Korban luka juga terus bertambah di berbagai wilayah. Sedikitnya 50 orang dilarikan ke rumah sakit di Kota Hikawa, sementara lebih dari 50 korban lainnya dirawat di Kota Kumamoto, termasuk satu orang yang dilaporkan tidak sadarkan diri.

Kerusakan juga terjadi di sekitar pusat gempa. Rekaman televisi memperlihatkan sejumlah bangunan roboh, sementara petugas pemadam kebakaran di Kota Uki menerima banyak laporan kebakaran yang muncul setelah gempa.

Gangguan Infrastruktur Transportasi

Infrastruktur transportasi mengalami gangguan serius. Jalan layang di Jalan Tol Kyushu di Kota Yatsushiro mengalami kerusakan berat, sedangkan sebagian jalur pejalan kaki sebuah jembatan di kota yang sama dilaporkan runtuh.

Operator JR Kyushu menghentikan seluruh layanan Shinkansen Kyushu serta sejumlah jalur kereta lokal. Selain itu, perusahaan pengelola jalan tol West Nippon Expressway juga menutup beberapa ruas jalan tol, terutama di Prefektur Kumamoto.

Respons Pemerintah

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi meminta masyarakat di wilayah terdampak tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dengan kekuatan serupa. Ia mengatakan laporan korban luka diperkirakan masih akan terus bertambah seiring proses pendataan berlangsung.

Beberapa jam kemudian, Takaichi mengumumkan pembentukan satuan tugas darurat penanggulangan bencana yang dipimpinnya langsung. Pemerintah juga mengerahkan sekitar 3.600 personel Pasukan Bela Diri Jepang untuk membantu operasi penyelamatan atas permintaan Gubernur Kumamoto.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya dan doa kami menyertai seluruh korban terdampak. Ini adalah momen yang sangat krusial dan keselamatan jiwa manusia menjadi prioritas utama," ujar Takaichi.

Peringatan dari Badan Meteorologi Jepang

Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengingatkan masyarakat agar tetap siaga selama sekitar satu pekan ke depan, terutama dalam dua hingga tiga hari pertama. Menurut JMA, gempa kali ini berpotensi memicu rangkaian gempa susulan kuat seperti yang pernah terjadi pada bencana Kumamoto 2016.

JMA menjelaskan gempa dipicu oleh pergeseran horizontal pada dua sesar berbeda. Meskipun pusat gempa berada sekitar 20 kilometer dari Zona Sesar Hinagu yang memicu gempa besar 2016, badan tersebut menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan hubungan antara kedua peristiwa tersebut.

Keamanan Energi dan Tsunami

Pemerintah juga memastikan tidak ditemukan kelainan pada pembangkit listrik tenaga nuklir di Jepang. Peringatan tsunami yang sempat dikeluarkan untuk wilayah pesisir Laut Ariake dan Laut Yatsushiro akhirnya dicabut pada pukul 18.10 waktu setempat.

Gempa ini merupakan yang pertama mencapai intensitas shindo 7 sejak gempa Semenanjung Noto pada Januari 2024. Pada tingkat guncangan tersebut, seseorang tidak dapat berdiri tegak, perabot yang tidak terikat dapat terlempar, dan dinding beton bertulang berpotensi runtuh.

Dampak Listrik dan Cuaca Panas

Gempa juga menyebabkan listrik padam di sekitar 48.300 rumah di Prefektur Kumamoto. Di tengah musim panas yang sedang melanda Jepang dengan suhu diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius pada Rabu dan mendekati 39 derajat Celsius pada akhir pekan, pemerintah mengingatkan warga untuk mewaspadai risiko serangan panas selama proses evakuasi.

Bencana ini terjadi lebih dari satu dekade setelah dua gempa besar mengguncang Kumamoto pada April 2016 yang menewaskan 278 orang dan melukai sekitar 2.800 lainnya. Kastel Kumamoto yang rusak parah akibat gempa tersebut hingga kini masih menjalani proses restorasi dan diperkirakan baru selesai pada tahun fiskal 2052.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama