DPR desak penanganan serius korban keracunan MBG, siswi usia 16 tahun di Karo diduga hilang ingatan

DPR desak penanganan serius korban keracunan MBG, siswi usia 16 tahun di Karo diduga hilang ingatan
Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait memberikan penanganan serius terhadap para siswa yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG.
  • Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah FP, siswi SMA berusia 16 tahun yang disebut mengalami gangguan ingatan.
  • Saan juga menegaskan bahwa pemerintah perlu bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan dan pemulihan korban.

UMKM NewsKasus dugaan keracunan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan.

Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) dan instansi terkait memberikan penanganan serius terhadap para siswa yang diduga mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program MBG.

Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah FP, siswi SMA berusia 16 tahun yang disebut mengalami gangguan ingatan setelah diduga mengalami keracunan.

Saan menilai kondisi Febiona sudah memprihatinkan karena gangguan ingatan tersebut disebut dapat menjadi dampak kronis dari keracunan.

Saan juga menegaskan bahwa pemerintah perlu bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan dan pemulihan korban.

Menurutnya, banyak penerima program MBG berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Karena itu, keluarga korban dinilai tidak seharusnya menanggung sendiri biaya perawatan yang muncul akibat kejadian tersebut.

"Kita minta ya dari BGN bahkan dari instansi-instansi yang terkait untuk bisa menangani mereka secara serius ya. Mereka secara serius dan sungguh-sungguh agar dampak dari keracunan MBG itu anaknya bisa segera pulih kembali ya secara kesehatan dan juga yang lainnya," ujar Saan, dikutip dari YouTube Tribunnews, Kamis (10/9/2026).

Ia menilai penanganan harus dilakukan secara menyeluruh dan cepat agar kondisi korban tidak semakin memburuk.

"Karena ini sudah pada level yang cukup memprihatinkan. Ini penting untuk segera, kalau ada keracunan-keracunan yang terjadi itu kan bisa ditangani dengan cepat karena tidak terlalu berisiko. Nah, kalau yang ini kan sudah berisiko karena kehilangan ingatan, masuk dalam penyakit-penyakit yang memang dampaknya sangat kronis," katanya.

Saan pun meminta pemerintah daerah dan BGN segera mengambil tindakan lebih cepat dan serius, termasuk dalam persoalan biaya pengobatan.

Pemprov Sumut Pantau Kondisi Febiona

Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan pihaknya terus memantau kondisi Febiona, baik dari sisi kesehatan fisik maupun mental.

Menurut Bobby, tim medis masih melakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab gangguan yang dialami Febiona.

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk melihat apakah kondisi yang dialami berkaitan dengan pengaruh obat, gangguan saraf, atau faktor lainnya.

"Itu masih kita pantau terus. Barusan juga kita minta laporan terkait kasus tersebut. Ini masih terjadi pemantauan baik secara psikis dan psikisnya juga," ujar Bobby.

Ia mengatakan adanya gangguan pada kondisi anak tersebut memang menjadi perhatian pemerintah. Namun, penyebabnya masih harus dipastikan melalui pemeriksaan medis.

"Yang pasti ada terjadi gangguan kepada anak kita. Tapi gangguan di sini perlu kita lihat apakah tindak lanjut dari medisnya, pemeriksaan dari medisnya, apakah memang pengaruh dari perutnya atau sarafnya atau yang lainnya," katanya.

Trauma Psikologis Korban Turut Diperiksa

Selain kondisi fisik, Bobby mengatakan aspek psikologis korban juga menjadi perhatian.

Menurut dia, trauma setelah kejadian keracunan tidak bisa langsung disimpulkan tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Karena itu, pemerintah juga melibatkan pemeriksaan psikologis untuk mengetahui kondisi mental korban.

"Kita enggak bisa nilai traumatis orang itu setelah keracunan itu apakah dia ada trauma atau segala macam. Dari penanganan mental dan segala macam ini juga kita ikut periksa," ujar Bobby.

Ia menegaskan pemeriksaan tidak hanya berfokus pada sakit yang berkaitan dengan kondisi fisik.

"Seluruhnya bukan hanya sakit medis tapi yang lain juga kita periksa," katanya.

Bobby juga memastikan pemerintah tidak akan lepas tangan setelah Febiona mendapatkan penanganan di rumah sakit.

Ia menyebut Febiona merupakan siswi SMA di wilayah Sumatera Utara sehingga tetap menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah.

"Pokoknya selagi ini saya sampaikan ini anak kami, ini siswa kami di anak SMA yang ada di wilayah Sumatera Utara itu anak-anak kami, tanggung jawab kami juga," ujar Bobby.

Pendampingan Psikologis Akan Diperkuat

Bobby mengatakan pemerintah juga akan memperluas pendampingan terhadap korban, termasuk dengan melibatkan pihak yang menangani perlindungan anak.

Langkah tersebut dilakukan karena dampak kejadian tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga kemungkinan trauma yang dialami korban.

"Selama ini mungkin hanya masuk dari Dinas Kesehatan. Nanti kita akan coba masuk juga Dinas Perlindungan Anak karena di sana ada psikologi, ada sekolah dan segala macam," katanya.

Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap kondisi korban dapat dipantau secara lebih menyeluruh.

Bobby juga ditanya mengenai kemungkinan penghentian program MBG setelah munculnya kasus dugaan keracunan.

Ia mengatakan pemerintah tidak memiliki rencana untuk menghentikan program tersebut.

Menurut Bobby, yang akan dilakukan adalah memperbaiki mekanisme pelaksanaan, penyaluran, serta menu makanan MBG.

"Yang kita dukung perbaikan MBG-nya, perbaikan penyalurannya, perbaikan mekanismenya," ujar Bobby.

Ia mengatakan program tersebut masih dibutuhkan di sejumlah daerah, tetapi pelaksanaannya harus diperbaiki agar tidak kembali menimbulkan korban.

"Karena di sebagian daerah tentu ada yang membutuhkan MBG, tapi harus penyalurannya dan menunya juga harus baik tanpa ada korban-korban jiwa lagi," katanya.

AG Diduga Alami Gangguan Ginjal

Selain FP, kasus lain juga disampaikan oleh orang tua siswa dalam RDP bersama DPRD Karo pada Senin (7/9/2026).

AG disebut mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG.

Orang tua AG mengungkapkan kondisi anaknya kembali memburuk beberapa hari sebelum RDP hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Dari pemeriksaan yang dilakukan, AG disebut mengalami gangguan ginjal dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Kondisi tersebut membuat orang tua AG mengaku terpukul, terlebih biaya pengobatan kali ini disebut tidak ditanggung seperti saat pertama kali mendapatkan perawatan setelah dugaan keracunan MBG.

Orang Tua Pertanyakan Pertanggungjawaban SPPG

Dalam RDP tersebut, orang tua AG, Paruliana Boru Silitonga, menyampaikan keluhannya dengan penuh emosi.

Ia mempertanyakan pertanggungjawaban pihak SPPG atas kondisi yang dialami anaknya.

"Anak sayalah yang kena ginjalnya. Di mana hati nurani kalian? Terutama kepala SPPG. Bapak punya anak atau tidak?" ujar Paruliana.

Ia mengatakan kondisi anaknya kini masih lemah di rumah dan sudah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit.

"Ini anakku sekarang lemah di rumah. Ini tentang nyawa anak kami ini. Ini tentang nyawa, Pak. Nyawa," katanya.

"Anak saya sudah tiga kali bolak-balik rumah sakit," lanjut Paruliana.

(UMKM News/ Listusista)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama